Din Hikmah. Diberdayakan oleh Blogger.

Headline Terkini

Tampilkan postingan dengan label Mutiara Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mutiara Hikmah. Tampilkan semua postingan

Berbuat Baik Dalam Segala Hal

Written By Din Hikmah on Selasa, 27 November 2012 | 03:00



-- BERBUAT BAIK DALAM SEGALA HAL --

"Sungguh, Allah menyuruhmu berlaku adil dan berbuat kebaikan kepada kaum kerabat, dan Allah mencegah kamu berbuat keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadaMu supaya kamu dapat memetik pelajaran."
(QS.An-Nahl : 90)

Imam Qusyairi menegaskan: Allah menyuruh umat manusia supaya berlaku adil dalam segala hal/urusan, baik yang berkenaan dengan Allah ataupun yg berkenaan dengan manusia itu sendiri, atau yang berkaitan dengan makhluk lain nya.

Sedang Adil yang berkenaan dengan sesama manusia itu sendiri, ialah mencegah hal-hal yang bakal merusak dirinya, saling memberi Nasehat, dan tidak saling mengkhianati apakah dalam hal besar ataupun kecil, saling menginsafi dalam segala hal, juga tidak berbuat jahat, apakah dengan tutur kata, tingkah laku/perbuatan ataupun isi hati/niat.

Hal serupa dikatakan Ibnu Mas'ud ra. : "Ayat Al-Qur'an yang paling menyeluruh adalah ayat ini (QS.An-Nahl :90)."

Dalam Surat Ali-imran : 134
WALKA ZDIMIINAL GHOIZD
Dan orang-orang yang mengekang amarahnya

WAL'AAFIINA 'ANINNASI

Dan memaafkan kesalahan orang lain

WALLAHU YUHIBBUL MUHSINIINA

Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan

Sahabat yang diRahmati Allah, mari kita semua berbuat baik untuk sesama, tidak menyakiti satu sama lain dan selalu dengan sikap memaafkan, supaya Ridho Allah selalu bersama kita semua, Amiin..


Tukang Sol Sepatu Mendapat Pahala Haji Mabrur

Written By Din Hikmah on Rabu, 02 Mei 2012 | 10:47



Ada beberapa Hikmah yang dapat kita ambil dari cerita dibawah ini, yaitu tentang Tukang Sol sepatu yang mendapatkan pahala Haji Mabrur, mari kita simak cerita berikut ini dan semoga bisa menjadikan kita terpacu untuk lebih giat beramal ibadah.

Sa’id Ibnu Muhafah, Tukang Sol sepatu yang mendapatkan pahala haji mabrur, padahal ia tidak haji, suatu ketika Hasan Al-Basyri menunaikan ibadah haji. Ketika beliau sedang istirahat, beliau bermimpi. Dalam mimpinya beliau melihat dua Malaikat sedang membicarakan sesuatu.

“Rasannya orang yang menunaikan haji tahun ini, banyak sekali” Komentar salah satu Malaikat
“Betul” Jawab yang lainya.
“Berapa kira-kira jumlah keseluruhan?”
“Tujuh ratus ribu”
“Pantas”
“Eh, kamu tahu nggak, dari jumlah tersebut berapa kira-kira yang mabrur”,
Selidik Malaikat yang mengetahui jumlah orang-orang haji tahun itu.
“Wah, itu sih kehendak Allah”
“Dari jumlah itu, tak satupun yang mendapatkan haji Mabrur”
“Kenapa?”
“Macam-macam, ada yang karena riya', ada yang tetangganya lebih memerlukan uang tapi tidak dibantu dan dia malah haji, ada yang hajinya sudah berkali kali, sementara masih banyak orang yang tidak mampu, dan berbagai sebab lainnya
“Terus?”
“Tapi Masih ada, orang yang mendapatkan Pahala haji mabrur tahun ini”
“Lho kata nya tidak ada”
“Ya, karena orangnya tidak naik haji”
“Kok bisa”
“Begitulah”
“Siapa orang tersebut?”
Sa’id bin Muhafah, tukang sol sepatu di kota Damsyiq

Mendengar ucapan itu, Hasan Al-Basyri langsung terbangun. Sepulang dari Makkah, ia tidak langsung ke Mesir, Tapi langsung menuju kota Damsyiq (Siria). Sesampai disana ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yang namanya Sa’id bin Muhafah.

“Ada, ditepi kota” Jawab salah seorang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya. Sesampai disana Hasan Al-Basyri menemukan tukang sepatu yang berpakaian lusuh,
“Benarkah anda bernama Sa’id bin Muhafah?” tanya Hasan Al-Basyri
“Betul, kenapa?”

Sejenak Hasan Al-Basyri kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaanya, akhirnya iapun menceritakan perihal mimpinya. 
“Sekarang saya tanya, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur, barang kali mimpi itu benar” selidik Hasan Al-Basyri sambil mengakhiri ceritanya.

“Saya sendiri tidak tahu, yang pasti sejak puluhan tahun yang lalu saya memang sangat rindu Makkah, untuk menunaikan ibadah haji. Mulai saat itu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu. Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Dan pada tahun ini biaya itu sebenarnya telah terkumpul”

“Tapi anda tidak berangkat Haji??”
“Benar”
“Kenapa?”
“Waktu saya hendak berangkat ternyata istri saya hamil, dan saat itu dia ngidam berat”
“Terus?”
“Ngidamnya aneh, saya disuruh membelikan daging yang dia cium, saya cari sumber daging itu, ternyata berasal dari gubug yang hampir runtuh, disitu ada seorang janda dan enam anaknya. Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin daging yang ia masak, meskipun secuil. Ia bilang tidak boleh, hingga saya bilang bahwa dijual berapapun akan saya beli, dia tetap mengelak.

Akhirnya saya tanya kenapa?.. “daging ini halal untuk kami dan haram untuk tuan” katanya
“Kenapa?” tanyaku lagi ,
“Karena daging ini adalah bangkai keledai, bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakanya tentulah kami akan mati kelaparan,”
Jawabnya sambil menahan air mata.

Mendengar ucapan tersebut spontan saya menangis, lalu saya pulang, saya ceritakan kejadian itu pada istri saya, diapun menangis, akhirnya uang bekal hajiku kuberikan semuanya untuk dia”

Mendengar cerita tersebut Hasan Al-Basyri pun tak bisa menahan air mata.”Kalau begitu engkau memang patut mendapatkanya” Ucapnya.

Cerita atau Kisah ini diceritakan oleh Imam dan Khotib Masjid Rohmah, Cairo Egypt.
Dan untuk Shahih tidaknya tidak disebutkan. Meski demikian kisah ini perlu menjadi bahan perenungan untuk kita semua untuk lebih peduli terhadap sesama dan menjadikan bahan Hikmah diantara Hikmah.


[Dh/m]




Agama Bukan Berdasar Akal Pikiran

Written By Din Hikmah on Jumat, 06 April 2012 | 14:25


Islam sebenarnya sudah menjawab segala problematika hidup dari segenap seginya. Tetapi di masa kini sedikit sekali orang yang mengetahui dan meyakini kesempurnaannya.
karena apa? Akhir-akhir ini banyak sekali segala sifat, ucapan, tindakan yang tidak diterapkan dengan semestinya, Masih banyak sekali orang-orang yang merasa dirinya benar sendiri dengan ilmu yang diketahui nya, padahal jika mengorek lebih lanjut, hanya dusta yang selalu ia ucapkan. sebenar nya ia tidak mengetahui apa-apa dalam agama, bahkan ia berani menafsirkan Alqur'an menurut pemahaman nya sendiri tanpa didasari ilmu yang mumpuni..
Bukan kah lebih baik diam dari pada memberikan ilmu yang ia tidak tau kebenaran nya.??

Dari Ibnu 'Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya."
(Hadits riwayat Ath-Thabarani)

Dari Ubaidulllah bin Abdullah bin Utbah, Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu'anhu berkata,
"Tidaklah engkau menyampaikan (suatu ilmu) kepada suatu kaum dengan sebuah pembicaraan yang tidak bisa dicapai oleh akal mereka melainkan pasti akan menimbulkan fitnah/kesalahpahaman pada sebagian mereka."
(HR.Muslim dalam mukadimah shahihnya)

Al-Qosim bin Muhammad berkata,
"Termasuk bentuk pemuliaan seseorang terhadap dirinya yaitu ia tidak berkata kecuali sesuatu yang ia telah kuasai ilmunya"
[Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam Al-Madkhol ila As-Sunan Al-Kubro 1/434 no 805]

jika kita tidak mengetahui ilmu yang Haq, Allah subhanahu wa ta'ala menyuruh kita diam sebagaimana firman nya:
"Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta 'ini halal dan ini haram', untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung,"
(QS.An-Nahl: 116)

itulah akibatnya jika kita memberikan ilmu yang kita tidak tau kebenaran nya, ada baiknya kita memahami dan merenungkan ayat diatas.

Suatu hari, al-Qasim bin Muhammad pernah ditanya lalu ia menjawab, "Allahu a'lam." Kemudian ia berkata, "Demi Allah, lebih bagus seseorang itu hidup jahil, setelah mengetahui hak-hak Allah atas dirinya, daripada mengatakan apa yang tidak ia ketahui,"
(Shahih, HR. ad-Darimi 1/48)

Barang siapa yang tahu akan dirinya maka dia kan tahu akan tuhannya, dan siapa yang sudah tahu akan tuhannya maka dia akan merasa paling bodoh, dan tidak merasa paling benar sendiri.

Diriwayatkan dari 'Abdullah bin Mas'ud berkata, "Bagi yang tahu hendaklah mengatakan apa yang ia ketahui. Dan bagi yang tidak tahu hendaklah mengatakan, Allaahu a'lam. Sebab termasuk ilmu adalah mengatakan, 'Aku tidak tahu' dalam perkara yang tidak ia ketahui ilmunya."
Sebab Allah berfirman kepada Nabi-Nya, 

"Katakanlah (hai Muhammad), Aku tidak meminta upah sedikitpun ke-padamu atas dakwahku; dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan,"
(QS.Shaad: 86).

Jika ada seseorang yang menfatwakan agama tanpa didasari ilmu yang Haq, Janganlah dadanya merasa berat untuk mengatakan kebenaran dan menyatakannya. Karena sesungguhnya Allah menolongnya dan menunjukinya. Bagaimana tidak, itulah kedudukan yang Allah sendirilah yang menanganinya, Allah SWT berfirman, "Dan mereka minta fatwa kepadamu tentang para wanita. Katakanlah, Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka, dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al-Qur’an,"
(QS.An-Nisaa’: 127).

Sekiranya sedikit yang saya sampaikan semoga bisa menjadi bahan perenungan dengan ilmu yang kita ketahui, dan semoga bermanfaat.
Wallaahu a’lamu bishshawaab, In kaana shawaaban faminallaah, wa in kaana khatha-an, faminnii waminasysyaithaan, wallaahu waraosuuluhuu barii-aan.
"Dan Allah Yang Paling Mengetahui apa yang benar, Kalau apa yang saya sampaikan itu benar, maka kebenaran itu datang dari Allah. Kalau apa yang saya sampaikan itu keliru, maka ia berasal dari diri saya dan dari syaithan. Allah dan RasulNya tidak ada keterlibatan"

Allahumma inni a'udzubika minal khubsi wal-khabaa-is



( Din Muhammad 'ilyas )







KEJUJURAN

Written By Din Hikmah on Minggu, 19 Februari 2012 | 18:01




Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Kejujuran :Moral Utama dalam Membina Ummat


"Hendaklah kamu semua bersikap jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga. Seorang yang selalu jujur dan mencari kejujuran akan ditulis oleh Allah sebagai orang yang jujur (shidiq). Dan jauhilah sifat bohong, karena kebohongan membawa kepada kejahatan, dan kejahan membawa ke neraka. Orang yang selalu berbohong dan mencari-cari kebohongan, akan ditulis oleh Allah sebagai pembohong (kadzdzab). "
(H.R. Bukhari)

Salah satu dari sekian sifat dan moral utama seorang manusia adalah kejujuran, Karena kejujuran merupakan dasar fundamental dalam pembinaan umat dan kebahagiaan masyarakat. Karena kejujuran  menyangkut segala urusan kehidupan dan kepentingan orang banyak. Kepada manusia Allah SWT memerintahkan agar mempunyai perilaku dan sifat ini.

Rasulullah SAW adalah merupakan contoh terbaik dan seorang yang memiliki pribadi utama dalam hal kejujuran, Kejujuran memang akhlak utama para nabi dan rasul. Dan demikian pula akhlak para generasi pertama dan utama umat ini, mereka senantiasa berpegang teguh kepadakebenaran dan kejujuran dalam segala aspek kehidupan.

Bukan saja dalam urusan kemasyarakatan, namun juga dalam kehidupan keluarga dan rumah tangga termasuk pergaulan dengan anak-anak mereka.
Abu Hurairah r.a meriwayatkan sebuah hadits Rasulullah SAW. Beliau bersabda:
“Barangsiapa yang berkata kepada seorang anak, “Mari nak, ambillah kurma ini”, lalu dia tidak
memberikannya, maka ia telah mendustainya.”
(HR. Ahmad)

Dengan tuntunan seperti itu, Rasulullah SAW hendak memberi pelajaran kepada para orang tua dan para pendidik, supaya mereka menanamkan sifat utama ini kepada anak-anaknya semenjak kecil, Sehingga ketika mereka menjadi dewasa mereka tetap memiliki watak dan kebiasaan ini.

Melalui cara ini diharapkan kelak akan lahir generasi Islam yang utama, yang akan memberikan kebahagiaan hidup dan membangkitkan kesadaran bangsa.
Islam menaruh perhatian serius terhadap moral terpuji ini. Islam selalu mengajak dan mendorong manusia agar memilikiwatak ini, sebaliknya Islam tidak menyukai dan bahkanmemperingatkan manusia agar menjauhi dusta dan ketidak jujuran.

Karena dusta adalah merupakan salah satu perangai yang bernilai rendah dan tercela. Karena dusta, hukum-hukum menjadi rusak, kehormatan terinjak-injak dan berbagai kejahatan merajalela.
Berita bohong seringkali mengakibatkan terputusnya hubungan persaudaraan dan menimbulkan konflik yang tak berhujung sesama manusia.

Isu bohong tidak sedikit membuat seseorang kehilangan harga dirinya, Salah satu bukti bahwa betapa Islam sangat mencela dusta adalah bahwa Islam sangat mencela saksi palsu yang dapat mengakibatkan hukum dapat diperjual belikan.

Dan menurut Islam, saksi palsu adalah salah satu dari bagian kesalahan yang sangat fatal dandosa besar, Kesaksian dusta kadang-kadang dilakukan orang karena beberapa sebab. Antara lain karena hubungan yang tidak baik, karena kasihan kepada kawan, karena terlalu bencikepada lawan, karena takut kepada atasan atau karena ada udang di balik batu.

Demi menegakkan kebenaran dan kedamaian di muka bumi ini, Tuhan memerintahkan kepada kita menjadi saksi yang jujur dan adil, dan mengutamakanpenegakan kebenaran.

Allah SWT berfirman: 
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapakmu dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya.Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran, dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.” 
(Q.S. An Nisaa’: 135)

Memang sangat disadari bahwa menjadi orang yang jujur merupakan pilihan yang sungguh berat sekali ditengah arus budaya yang penuh dengan kepalsuan, kedustaan,kemunafikan dan ketidak-jujuran, dimana orang sangat sulit sekali dipegang kata dan janjinya. Padahal kejujuran tidak hanya mencerminkan integritas kepribadian seseorang, tetapi juga menjadi pesona bagi sesama dan mengundang datangnya ketenangan bagi pelakunya.

Sedemikian berbahaya nya sikap dusta dan ketidak-jujuran, maka Allah dan Rasul-Nya Muhammad SAW mengingatkan kepada kita para hamba dan umatnya untuk senantiasa memelihara dan menjaga sifat yang mulia ini, yakni kejujuran.

Apalah arti kehidupan ini jika tidak dihiasi dengan kejujuran. Apalah arti limpahan harta yang banyak jika semua itu bukanlah hasil tetesan keringat kejujuran. Maka tanamkanlah kejujuran dalam diri kita, karena kejujuran adalah salah satu pondasi utama dalam membangun bangsa. Karena, betapapun besarnya sebuah bangsa, tetapi jika kejujuran telah sirna, maka hancurlah bangsa itu.

SEMOGA BERMANFAAT BAGI KITA SEMUA

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh



( Din Muhammad 'ilyas )







Hati, Penalaran, Dan Pikiran


Nasehat Tentang Hati, Penalaran dan Pikiran. Bagi Pasangan Hidup ataupun Rumah Tangga.


Ikatan hati lebih kuat dibanding penalaran kita, penalaran/logika akan kebahagiaan yang kita impi-impi kan, penalaran cita-cita yang kita dambakan.
Tapi..penalaran/logika kadang malah menjerumuskan kita kedalam sebuah penderitaan.
Karena apa..?? Karena kadang justru penalaran kita membuat kita merasa tidak pernah terpuaskan dengan
apa yang kita dapatkan, karena kita selalu mendambakan keinginan yang tinggi..dan kita selalu merasa tidak terpuaskan karena sebuah "penalaran".

Tuhan menciptakan sebuah pasangan didalam sebuah perbedaan Sifat, ego, fikiran, perilaku, kebiasaan. semua yang kita punya itu tidak mungkin sama persis dengan pasangan kita, pasti ada perbedaan. karena semua itu sifat manusiawi.

Bahkan pasangan sesempurna Adam dan Hawa pun diciptakan dengan sebuah perbedaan, apa lagi kita sebagai manusia biasa.
Dari semua nya itu, Tuhan menyuruh kita untuk menyatukan semua perbedaan itu untuk saling melengkapi dan saling mengisi.

Sangat tidak mungkin orang berkelakuan baik terus, dan sangat tidak mungkin orang berkelakuan buruk terus, karena sifat yang sempurna hanya milik Rasulullah SAW. Dan kita harus bisa belajar untuk menerima apa kelebihan dan kekurangan pasangan kita.
Kita tidak perlu mengoreksi kebaikan atau keburukan pasangan kita, Tapi koreksi lah diri kita sendiri, sudah  benar atau tidak, atau bahkan kita merasa salah..??

Ada baiknya kita saling mengisi satu sama lain, mencintai pasangan kita tidak hanya kelebihannya saja tapi kita juga mencintai kekurangannya, alangkah bahagianya hidup bersama orang yang kita cintai.
senyum kita adalah senyum pasangan kita, sedih kita adalah tangis pasangan kita begitu juga sebaliknya.
Ada saat-saat bahagia, ada saat-saat sedih, syukuri lah semua itu, dan jangan dijadikan sebuah keluhan menjadi sebuah permasalahan.

Jangan pernah merasa apa pun keadaan yang kita dapatkan menjadi sebuah penyesalan, meski pahit sekalipun. karena kita tidak akan pernah tau apa yang terjadi esok. karena sebuah penyesalan akan membuka pintu keburukan. Berusaha lah sebaik mungkin untuk diri kita sendiri dan orang lain.
Kadang, yang bagi kita buruk justru itu kebaikan buat kita, Allahu'alam..

Kadang, perbedaan hati memang sulit dimengerti, dan kita harus bisa untuk menyeimbangkan pikiran dan hati agar bisa sejalan sebagaimana mestinya.
Setiap hubungan pasti ada "API", dan jangan sekali-sekali kita meninggalkan pasangan kita dalam keadaan ada api. Pepatah berkata.."Pantang pulang sebelum padam"
Dari kata-kata pepatah diatas, kita harus bisa memahaminya. Bisa apa tidak kita tetap bertahan dalam api itu sehingga kita berusaha untuk memadamkan bersama dengan pasangan kita,
Dan kalau kita pergi dari api itu,bagaimana kita memadamkanya????
bukankah kita dituntut untuk belajar dari sebuah permasalahan..??

Kalau hati adalah penghubung antara kita dan Allah, maka isi hati adalah kebenaran, walaupun seringkali kita mengingkarinya. Seringkali hati kita tahu hal-hal yang akan terjadi, atau menjadi alarm bila akan terjadi hal-hal yang membahayakan.
Namun, seringkali pula hati kita tertutup, baik itu tertutup oleh tubuh kita atau oleh nafsu kita. Maka sering kita menjumpai penolakan kita mengikuti kata hati karena tidak sesuai dengan nafsu kita.
Walaupun sebetulnya pada akhirnya nanti kata hati yang akan menang dan kata hati yang akan terjadi.

Hati yang peka bisa dimiliki oleh orang-orang Sholeh dan rajin mendekatkan diri pada Allah. Mereka miliki bashirah yang tajam. Semoga kita mampu mengikuti mereka.
Dalam Al-Qur’an manusia disebut dengan istilah basyar dan insan. Basyar artinya manusia dalam pengertian persamaan fisik. Sedangkan insan mengandung pengertian psikologis. Kata insan terambil dari kata Nasia yansa yang artinya lupa, dari kata 'uns yang artinya mesra, juga dari kata Anasa yanusu yang artinya bergejolak.

Jadi manusia pada dasarnya adalah makhluk yang memiliki tabiat mesra, tetapi suka lupa dan memiliki gejolak keinginan yang tak pernah berhenti. Selagi manusia dalam keadaan lupa diri dan dalam pengaruh gejolak keinginannya, maka ia tidak dapat merasakan ketenangan dan ketenteraman hidup.

Nah dalam hidup berpasangan itulah dimaksud supaya manusia menemukan ketenteraman, yang diperindah dengan kemesraan.
Bentuk paling kasar dari jiwa adalah perasaaan.
Bentuk paling halus dari jiwa adalah hati.
Bentuk paling halus dari jasmani adalah pikiran dan hawa nafsu.
Bentuk paling kasar dari jasmani adalah seluruh anggota tubuh.

Wallahu a'lam bisshowab

[Dh/m]







HAKIKAT IKHLAS

Oleh: KH. Dr. A. Mustofa Bisri

Kami, aku dan kakakku Kiai Cholil Bisri, mendengar dari guru kami Syeikh Yasin Al-Fadani dan ayah kami Kiai Bisri Mustofa --rahimahumuLlah, masing-2 berkata: Aku bertanya kpd Sayyid Guru Umar Hamdan ttg hakikat IKHLAS,

dan beliau pun berkata: Aku pernah bertanya kpd guruku Syeikh Sayyid Muhammad Ali Al-Witri ttg hal itu

dan beliau berkata, Aku pernah bertanya ttg hal itu kpd guruku Syeikh Abdul Ghani Al-Mujaddidi,

beliau berkata: Aku pernah bertanya kepada guruku Syeikh Muhammad Abid As-Sindi Al-Anshari,

beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Shiddiq bin Ali Al-Mizjaji,

beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada ayahku,

beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Hasan Al-Ujaimi,

beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Ahmad al-Qasysyasyi,

beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Ahmad Syanaawi,

beliau berkat: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada ayahku Syeikh Ali Asy-Syanaawi,

dan beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Abdul Wahhab Asy-Sya'rani,

dan beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Al-Haafizh Jalaluddin As-Suyuthi,

beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada A'isyah binti Jaarullah bin Shaleh Ath-Thabari,

beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Ibrahim bin Muhammad bin Shiddiq,

dan beliau berkata: Aku bertanya ttg hal itu kpd Syeikh Abul Abbas Al-Hajjar,

dan beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Jakfar Ibn Ali AL-Hamdani,

beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Abul Qasim bin Basykual,

beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Qadhi Abu Bakar bin aL-'Arabi,

beliau berkata: Aku pernah menanyakan hal itu kepada Syeikh Ismail bin Muhammad Al-Fadhal Al-Ashbihani,

beliau berkata: Aku pernah menanyakan halitu kepada Syeikh Abu Bakar bin Ahmad bin Ali bin Khalaf,

dan beliau berkata: Aku pernah menanyakan hal itu kepada Syeikh Abdurrahman Al-Baihaqi,

dan beliau berkata: Aku pernah menanyakan hal itu kepada Syeikh Ali bin Sa'id Ats-Tsaghrai dan Syeikh Ahmad bin Muhammad bin Zakaria,

dan beliau berdua berkata: Kami pernah menanyakan hal itu kepada Syeikh Ali bin Ibrahim Asy-Syaqiqi,

dan beliau berkata: Aku pernaha menanyakan hal itu kepada Syeikh Abu Ya'qub Asy-Syaruthi,

beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh AHmad bin Ghassan,

dan beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Ahmad bin 'Atha' Al-Hujaimi,

beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Abdul Wahid bin Zaid,

dan beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Imam Hasan Al-Bashari,

beliau menjawab, Aku pernah bertanya kepada shahabat Hudzaifah r.a,

beliau menjawab: Aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW ikhlas itu apa,

beliau menjawab: Aku pernah menanyakan ttg ikhlas itu kpd malaikat Jibril a.s

dan beliau menjawab: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Allah Rabbul 'Izzaah,

dan IA menjawab: "IKHLAS ialah RAHASIA di antara rahasia-rahasiaKU yg KUtitipkan di hati hambaKU yg AKu cintai."

HUJAN ADALAH NIKMAT DAN KEBERKAHAN (bkn musibah)

Sahabat,akhir2 ini memang sering sekali turun Hujan.
Tp jgn skli2 kita mengeluhkan krn Hujan,krn hujan adlh suatu Nikmat dan Keberkahan dari Allah SWT.
Bayangkan saja didunia ini tdk diturunkan Hujan?? Tanah jd kering,tumbuhan jd kering bahkan jd mati,binatang ternak tdk bs minum. lalu dri mana kita makan Nasi,Roti, kl tdk dri tumbuhan.
Lalu,bagaimana yg trjadi jika Hujan tdk prnh turun?? Msh kah kita bs makan??

Bahkan Rasulullah SAW berdoa saat Turun Hujan supaya Hujan itu jd Bermanfaat,
ALLAHUMMA SHOYYIBAN NAAFI'AA (ya Allah, turunkanlah pd kami hujan yg bermanfaat)

Ibnu Baththol mengatakan,"Hadits ini berisi anjuran utk Berdo'a ketika turun hujan agar kebaikan dan keberkahan smkin brtmbah,bgtu pula smkin bnyk keManfaatan."

Al Khottobi mengatakan, "Air Hujan yg mengalir adlh suatu Karunia"

Bhkan saat turun Hujan trmsuk waktu mustajab nya sbuah Doa.
Ibnu Qudamah dlm Al-Mughni mengatakan,dianjurkan brDoa ketika turun hujan sprti sabda Rasulullah SAW:
"Carilah Do'a yg mustajab pd 3 keadaan: bertemunya dua pasukan, menjelang Sholat dilaksanakan, dan saat Hujan Turun"
(HR.Muslim)

Bhkn di Al-Quran jg disebutkan bahwa hujan memberi bnyk Manfaat (Barokah) yg Artinya:
"..Dan kami menurunkan dari Langit air yg penuh Barokah (bnyk manfaatnya)."
(QS.Qaaf : 9)

"Dan diantara tanda2Nya ialah bhwa kau lihat bumi kering & gersang,maka apabila kami turunkan air diatasnya,niscaya ia brgerak & subur. Sesungguhnya Tuhan yg menghidupkanya,pstilah dpt menghidupkan yg mati, sesungguhnya Dia Maha kuasa atas sgla sesuatu"
(QS.Fushshilat: 39)

Mari kita jadikan Hujan dgn ungkapan Syukur dan Do'a,bkn mlh mnjadi keluhan kita semua..semoga dgn turun nya Hujan akan memberi Manfaat buat kita semua..Amiin..
 
Support : Ahlus Sunnah Wal Jamaah
Copyright © 2011. DinHikmah - Media Online Islam Pemersatu Ummat - All Rights Reserved
Template Modify by Din Hikmah