Din Hikmah. Diberdayakan oleh Blogger.

Headline Terkini

Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Harta Riba Penyebab Azab Api Neraka

Written By Din Hikmah on Minggu, 05 Agustus 2012 | 14:30



Banyak sekarang ini sebagian dari manusia senang dengan yang namanya hutang maupun menghutangkan, dengan memberi bunga dan bunga tinggi, yang padahal itu dilarang Allah SWT karena itu termasuk dengan Riba.

Dalam syariat Islam, riba diartikan dengan bertambahnya harta pokok tanpa adanya transaksi jual beli sehingga menjadikan hartanya itu bertambah dan berkembang dengan sistem riba. Maka setiap pinjaman yang diganti atau dibayar dengan nilai yang harganya lebih besar, atau dengan barang yang dipinjamkannya itu menjadikan keuntungan seseorang bertambah dan terus mengalir, maka perbuatan ini adalah riba yang jelas-jelas diharamkan oleh Allah Subhannahu Wa Ta'ala dan Rasul Nya Shalallaahu alaihi wasalam, dan telah menjadi ijma' kaum muslimin atas keharamannya.
Allah Subhannahu Wa Ta'ala berfirman: 

يَمْحَقُ ٱللَّهُ ٱلرِّبَوٰا۟ وَيُرْبِى ٱلصَّدَقَٰتِ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

Artinya;
"Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa."
(QS. Al-Baqarah: 276)

Sungguh sangat besar sekali azab bagi orang-orang yang suka memakan Harta Riba, tapi kebanyakan orang selalu menganggap enteng tentang apa yang dilakukan nya, bahkan ada yang sebagian lagi sengaja memakan Riba yang padahal dia sendiri tau akan Hukum nya dalam Al-Qur'an, Naudzubillahi mindzalik.
Allah Subhannahu Wa Ta'ala berfirman: 

ٱلَّذِينَ يَأْكُلُونَ ٱلرِّبَوٰا۟ لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِى يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيْطَٰنُ مِنَ ٱلْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوٓا۟ إِنَّمَا ٱلْبَيْعُ مِثْلُ ٱلرِّبَوٰا۟ ۗ وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلْبَيْعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰا۟ ۚ فَمَن جَآءَهُۥ مَوْعِظَةٌۭ مِّن رَّبِّهِۦ فَٱنتَهَىٰ فَلَهُۥ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلنَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ

Artinya;
"Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya."
(QS. Al-Baqarah: 275)

Dalam menafsirkan ayat diatas, sahabat Ibnu 'Abbas Radhiallaahu anhu berkata: "Orang yang memakan riba akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan gila lagi tercekik."
(Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 1/40)

Imam Qatadah juga berkata: "Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta riba akan dibangkitkan pada hari Kiamat dalam keadaan gila sebagai tanda bagi mereka agar diketahui para penghuni padang mahsyar lainnya kalau orang itu adalah orang yang makan harta riba." 
(Lihat Al-Kaba’ir, Imam Adz-Dzahabi, hal.53).

Allah Subhanahu Wa Ta'alaa melarang kita memakan harta Riba, dan menyuruh kita memelihara diri kita dari api neraka yang sesungguhnya disediakan bagi orang-orang yang kafir.

Allah SWT berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَأْكُلُوا۟ ٱلرِّبَوٰٓا۟ أَضْعَٰفًۭا مُّضَٰعَفَةًۭ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Artinya;
"Wahai orang-orang yang beriman! Jangan lah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah agar km beruntung."


وَٱتَّقُوا۟ ٱلنَّارَ ٱلَّتِىٓ أُعِدَّتْ لِلْكَٰفِرِينَ

Artinya;
"Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan bagi orang-orang yang kafir."
(QS.Ali-'imraan: 130-131)

Ayat 130 turun karena masalah Riba:
Dalam tafsir Ibnu Katsir, Mujahid berkata, "Banyak orang yang berniaga dengan sistem riba, yaitu dengan memakai bunga. Jika tenggang waktu habis bunganya bertambah dan terus bertambah."
(HR.Al-Faryaby)

Dan Allah SWT menyuruh kita taat dengan perintahnya supaya diberi Rahmat, seperti dalam firman nya:

وَأَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Artinya;
"Dan taatlah kpd Allah dan Rasul(muhammad), agar km diberi rahmat."

Sedikit yang saya sampaikan semoga bermanfaat, dan Semoga kita semua diselamatkan dari api neraka dengan tidak memakan harta Riba,
Dan semoga Allah SWT selalu memberi Rahmat kepada kita semua..Amiin...



( Dyn Muhammad 'ilyas )






Kesenangan Dunia Yang Melalaikan

Written By Din Hikmah on Jumat, 27 April 2012 | 22:45


Kita tidak harus mengikuti Trend yang berkembang diDunia ini agar terlihat beda dengan yang lain nya, dari fashion, kendaraan, perhiasan, rumah atau yang lain nya.
Karena jika kita menuruti itu semua dengan nafsu pikiran kita, sedikit demi sedikit Agama dalam diri kita akan dikalahkan dengan kemewahan Dunia. 

Karena apa ??
Apabila seseorang melaksanakan shalat, maka syaithan datang membisikkan dan menggodanya dengan cara menyibukkan dengan berbagai hal, mengingat-ingat urusan dunia, menghadirkan barang-barang yang hilang sampai membuat orang yang shalat itu ngantuk atau lalai.
Dalam hadits riwayat Imam Bukhari dikatakan:

Yang Artinya: "Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: "Apabila dipanggil untuk shalat (adzan berkumandang), Syaithan segera membelakangi sambil kentut dengan keras sehingga orang itu tidak mendengar adzan tersebut. Apabila adzan telah selesai, ia segera menghampirinya. Apabila ia melaksanakan shalat, ia kembali membelakangi sambil membisikkan antara seseorang dengan dirinya. Syaithan itu mengatakan: ingat ini, ingat itu, sehingga ia tidak tahu berapa rakaat dia Shalat"
(HR. Bukhari Muslim).

Kita dapat melihat betapa sekarang ini manusia kebanyakan telah melangkah meninggalkan millah Islam dan terus saja mengikuti jejak yahudi dan nashara, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga ke lubang biawak pun mereka ikuti.
Ummat ini telah terperdaya dengan keindahan Dunia yang tanpa mereka sadari telah terjerumus didalam nya,

Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman:


اعْلَمُواأَنَّمَاالْحَيَاةُالدُّنْيَالَعِبٌوَلَهْوٌوَزِينَةٌوَتَفَاخُرٌبَيْنَكُمْوَتَكَاثُرٌفِيالْأَمْوَالِوَالْأَوْلَادِكَمَثَلِغَيْثٍأَعْجَبَالْكُفَّارَنَبَاتُهُثُمَّيَهِيجُ فَتَرَاهُمُصْفَرًّاثُمَّيَكُونُحُطَامًاوَفِيالْآخِرَةِعَذَابٌشَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌمِّنَاللَّهِوَرِضْوَانٌوَمَاالْحَيَاةُالدُّنْيَاإِلَّامَتَاعُالْغُرُورِ


"Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia Ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; Kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning Kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia Ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. "
(QS. Al Hadid: 20)

Dan sesungguhnya sebaik-baik Dunia itu tidak sebanding dengan kebaikan Akhirat, karena kesenangan dunia ini hanya sebentar, yang padahal Akhirat itu kekal, tapi kebanyakan manusia sekarang lebih mementingkan keindahan dunia.

وَمَاهَذِهِالْحَيَاةُالدُّنْيَاإِلَّالَهْوٌوَلَعِبٌوَإِنَّالدَّارَالْآخِرَةَلَهِيَالْحَيَوَانُلَوْكَانُوا يَعْلَمُونَ

"Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui."
(QS. Al 'Ankabut: 64).


Bahkan pada massa ini bukan kemiskinan yang Rasulullah SAW takutkan, melainkan mereka berlomba-lomba mencari keindahan Dunia, Perhatikan sabda Rasulullah SAW berikut ini: 
"Kalau begitu, bergembiralah dan berharaplah memperoleh sesuatu yang melapangkan diri kalian. Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan akan menimpa diri kalian. Akan tetapi, aku kawatir jika dunia ini dibentangkan untuk kalian sebagaimana ia dibentangkan untuk orang-orang sebelum kalian sehingga kalian berlomba sebagaimana mereka berlomba, dan akhirnya kalian hancur sebagaimana mereka hancur."
(Hadits riwayat Muslim (2961) dan al-Bukhari (6425), dan Ibnu Abi ad-Dunya dalam kitab tentang Zuhud hal. 73)

Rasulullah SAW Bersabda, 
"Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring." Seseorang berkata, "Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?" Beliau bersabda, "Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit WAHN." Seseorang bertanya, "Apakah wahn itu?" Beliau menjawab, "Cinta dunia dan takut mati." 
(HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud No. 3745)

Ummat telah banyak yang melupakan Allah. Mereka terjebak dalam kenikmatan duniawi yang sementara. Mereka berbuat semaunya seolah surga dan neraka itu tak ada.
Sebagian ummat Islam telah terjangkit dengan penyakit 'hubbud dunya' , terlalu mencintai kehidupan duniawi. 
Mereka begitu bernafsu terhadap kehidupan dunia ini sehingga mereka lupa akan kematian, dan mereka tidak mau mengingat kematian, serta sangat takut terhadap mati. Mereka takut mati, selain karena amal mereka, juga lebih-lebih dikarenakan mereka tidak mau meninggalkan dunia yang sangat mereka cintai ini. Mereka mencintai dunia ini hingga malas beramal yang mendekatkan diri mereka kepada Allah. Mereka mencintai dunia ini hingga melupakan Allah, tidak merindukan-Nya, tidak pula mengharapkan pertemuan dengan-Nya. walau mereka sangat mencintai dunia ini, tetapi tetap saja mereka pasti menemui kematian.

Allah SWT berfirman: 
"Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia ini tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan."
(QS. Hud[11]: 15-16)

Sababat Muslim semua, Segala sesuatu dalam kehidupan dunia ini tidak ada artinya. harta, gelar, pangkat, jabatan, dan popularitas tidak akan ada artinya jika tidak digunakan di jalan Allah. Keindahan dunia tidak ada apa-apa Nya dibanding keindahan Akhirat, fokuslah dengan apa yang membuat kita diRihoi Allah diAkhirat kelak.

Kaum Muslimin yang diRahmati Allah, Kita tidak perlu mengedepankan nafsu pikiran kita untuk mengikuti Trend yang berkembang diDunia ini agar terlihat beda dengan yang lain nya, dari fashion, kendaraan, perhiasan, rumah atau yang lain nya.
Cukup dengan merubah diri kita menjadi Baik dihadapan Allah Ta'alaa, itu sudah membuat diri kita beda dengan yang lain nya..insya Allah..



( Din Muhammad 'ilyas )





HIDUP SEDERHANA DALAM ISLAM

Written By Din Hikmah on Minggu, 18 Maret 2012 | 14:34

Bismillaahirrohmaanirrohiim
Assalaamu’alaikum warohmatullaahi wabarokaatuh

Terkadang dalam kehidupan ini, kita sering berhura-hura  untuk hal yang kurang bermanfaat termasuk berlebih-lebihan dan membuang-buang rizki,jadi pemboros atau yang lain nya.
padahal telah dikatakan dlm islam, bahwa perilaku ini merupakan merupakan perilaku tercela yang disebut israf dan tabzir.
Jadi, pertanyaannya adalah…Bagaimana cara kita untuk bersikap hemat atau hidup sederhana menurut islam?
Allah SWT berfirman:
waalladziina idzaa anfaquu lam yusrifuu walam yaqturuu wakaana bayna dzaalika qawaamaan
Artinya: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yg demikian.”
(QS.Al- Furqon:67)

Hendaknya kita semua mampu mengendalikan hawa nafsu kita, sehingga tidak diperdayakan oleh kehidupan dunia yang penuh dengan kemewahan, kelezatan dan kesenangan yang membutakan hati.
Ada baiknya kita semua mempergunakan apa yang kita punya dengan semestinya, dan Allah SWT Berfirman:
wa-anfiquu fii sabiili allaahi walaa tulquu bi-aydiikum ilaa alttahlukati wa-ahsinuu inna allaaha yuhibbu almuhsiniina
Artinya: “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah Ayat : 195)

Membelanjakan harta (infaq) bisa berbentuk wajib, sunnah, mubah, bahkan haram. Wajib dlm hal nafkah kepada anak- isteri, zakat, dll. Sunnah dlm hal shodaqoh, memberi hadiah, wasiat, dll. Mubah dalam hal rekreasi, dll. Haram jika bersifat israf, tabdzir dan taqtir.

Adapun kata tabdzir makna syara’nya adalah menafkahkan harta pada perkara-perkara yang haram. 
Dalam Al-qur’an menyuruh kita untuk tidak jadi pemboros,

Allah SWT berfirman :
inna almubadzdziriina kaanuu ikhwaana alsysyayaathiini wakaana alsysyaythaanu lirabbihi kafuuraan
Artinya: “ Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Israa' Ayat : 27)

Jika kita punya sesuatu yang lebih, Berikanlah kepada yang lebih membutuhkan, Bahkan Allah SWT menyuruh kita untuk memberikan  kepada yg lebih membutuhkan, dan Allah tidak suka dengan orang-orang yang berlebihan, seperti dalam Firman Allah SWT berikut:
wahuwa alladzii ansya-a jannaatin ma'ruusyaatin waghayra ma'ruusyaatin waalnnakhla waalzzar'a mukhtalifan ukuluhu waalzzaytuuna waalrrummaana mutasyaabihan waghayra mutasyaabihin kuluu min tsamarihi idzaa atsmara waaatuu haqqahu yawma hashaadihi walaa tusrifuu innahu laa yuhibbu almusrifiina
“Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan..” (QS.Al-An’am:141)

Jika kita mempunyai sesuatu Harta yang lebih tapi kita menutup Rapat-rapat Harta kita dengan berlaku kikir,sesungguhnya kita tdk akan mendapatkan kebaikan sama sekali.
Allah SWT Berfirman:
lan tanaaluu albirra hattaa tunfiquu mimmaa tuhibbuuna wamaa tunfiquu min syay-in fa-inna allaaha bihi 'aliimun
Artinya: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali ‘Imran: 92)

Selain itu sebagai seorang muslim berkewajiban selalu menjamin kepastian segala kebutuhan hidup dan makanan dengan barang yang halal..karena jika kita makan dari makanan Haram itu termasuk penghalang dari  terkabulnya sebuah Do’a.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW; “ Seorang lelaki berdo’a, Ya Tuhan, Ya Tuhan, sedang makanannya haram, minumannya haram, dan pakaiannya juga haram. Ia diberi makan (sejak kecilnya) dengan yang haram, bagaimana mungkin do’anya dikabulkan.” (HR Abu Hurairah r.a.).

Untuk itulah, solusinya adalah mari membiasakan diri hidup sederhana. Qona’ah bisa menjadi hal solutif. Qona’ah ialah sifat menerima apa adanya. Ia merupakan harta yang tidak pernah sirna.

Imam Al Ghazali memberi kiat-kiat agar kita memiliki sifat qona`ah, dalam kitab nya Ihya 'Ulumuddin
- Pertama, kesederhanaan dalam penghidupan dan pembelanjaan. Di dalam hadits disebutkan, “Pengaturan adalah separo dari penghidupan.”
- Kedua, pendek angan-angan. Sehingga ia tidak bergelut dengan kebutuhan-kebutuhan sekunder.
- Ketiga, hendaklah ia mengetahui apa yang dikandung di dalam sifat qona'ah berupa kemuliaan dan terhindar dari meminta-minta serta mengetahui kehinaan dan ketamakan.
Maka dengan cara ini, lanjut Al Ghazali, insya Allah ia akan bebas dari ketamakan.

Dengan hidup sederhana insya Allah hidup kita akan menjadi sukses. Sebagaimana pesan para Ulama “Sederhana adalah pangkal kesuksesan”. Amin….
Mudah-mudahan kita dapat menjadikan hidup kita lebih baik dari yang sebelumnya agar kita dapat meraih kesuksesan yang gemilang di dunia maupun di akhirat. Semoga kita semua menjadi orang-orang yang selalu di beri petunjuk oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Amin.

Demikianlah yang dapat saya sampaikan tentang "HIDUP SEDERHANA DALAM ISLAM" pada kali ini, semoga bermanfaat.
Wallaahu a’lamu bishshawaab, In kaana shawaaban faminallaah, wa in kaana khatha-an, faminnii waminasysyaithaan, wallaahu waraosuuluhuu barii-aan.
"Dan Allah Yang Paling Mengetahui apa yang benar, Kalau apa yang saya sampaikan itu benar, maka kebenaran itu datang dari Allah. Kalau apa yang saya sampaikan itu keliru, maka ia berasal dari diri saya dan dari syaithan. Allah dan RasulNya tidak ada keterlibatan"

JANGAN LUPA SEDEKAH

Wassalaamu’alaikum warohmatullaahi wabarokaatuh

( Din Muhammad 'ilyas )
 
Support : Ahlus Sunnah Wal Jamaah
Copyright © 2011. DinHikmah - Media Online Islam Pemersatu Ummat - All Rights Reserved
Template Modify by Din Hikmah