Din Hikmah. Diberdayakan oleh Blogger.

Headline Terkini

Tampilkan postingan dengan label DO'A. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DO'A. Tampilkan semua postingan

Tahlilan

Written By Din Hikmah on Rabu, 23 Mei 2012 | 06:00



Apa sih Tahlilan itu??

Pada hakikatnya majelis tahlil atau tahlilan adalah hanya nama atau sebutan untuk sebuah acara di dalam berdzikir dan berdoa atau bermunajat bersama. Yaitu berkumpulnya sejumlah orang untuk berdoa atau bermunajat kepada Allah SWT dengan cara membaca kalimat-kalimat thayyibah seperti tahmid, takbir, tahlil, tasbih, Asma’ul husna, shalawat dan lain-lain.
Maka sangat jelas bahwa majelis tahlil sama dengan majelis dzikir, hanya istilah atau namanya saja yang berbeda namun hakikatnya sama. (Tahlil artinya adalah lafadh Laa ilaaha illallah) Lalu bagaimana hukumnya mengadakan acara tahlilan atau dzikir dan berdoa bersama yang berkaitan dengan acara kematian untuk mendoakan dan memberikan hadiah pahala kepada orang yang telah meninggal dunia ? Dan apakah hal itu bermanfaat atau tersampaikan bagi si mayyit ?

Menghadiahkan Fatihah, atau Yaasiin, atau dzikir, Tahlil, atau shadaqah, atau Qadha puasanya dan lain lain, itu semua sampai kepada Mayyit, dengan Nash yg Jelas dalam Shahih Muslim hadits no.1149, bahwa “seorang wanita bersedekah untuk Ibunya yg telah wafat dan diperbolehkan oleh Rasul saw”, dan adapula riwayat Shahihain Bukhari dan Muslim bahwa “seorang sahabat menghajikan untuk Ibunya yg telah wafat”, dan Rasulullah SAW pun menghadiahkan Sembelihan Beliau SAW saat Idul Adha untuk dirinya dan untuk ummatnya, “Wahai Allah terimalah sembelihan ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad dan dari Ummat Muhammad” (Shahih Muslim hadits no.1967).

dan hal ini (pengiriman amal untuk mayyit itu sampai kepada mayyit) merupakan Jumhur (kesepakatan) Ulama seluruh madzhab dan tak ada yg memungkirinya apalagi mengharamkannya, dan perselisihan pendapat hanya terdapat pada madzhab Imam Syafi’i, bila si pembaca tak mengucapkan lafadz : “Kuhadiahkan”, atau wahai Allah kuhadiahkan sedekah ini, atau dzikir ini, atau ayat ini..”, bila hal ini tidak disebutkan maka sebagian Ulama Syafi’iy mengatakan pahalanya tak sampai.

Jadi tak satupun ulama ikhtilaf dalam sampai atau tidaknya pengiriman amal untuk mayiit, tapi berikhtilaf adalah pd Lafadznya. Demikian pula Ibn Taimiyyah yg menyebutkan 21 hujjah (dua puluh satu dalil) tentang Intifa’ min ‘amalilghair (mendapat manfaat dari amal selainnya). Mengenai ayat : “DAN TIADALAH BAGI SESEORANG KECUALI APA YG DIPERBUATNYA, maka Ibn Abbas ra menyatakan bahwa ayat ini telah mansukh dg ayat “DAN ORANG- ORANG YG BERIMAN YG DIIKUTI KETURUNAN MEREKA DENGAN KEIMANAN”,

Mengenai hadits yg mengatakan bahwa bila wafat keturunan adam, maka terputuslah amalnya terkecuali 3 (tiga), shadaqah Jariyah, Ilmu yg bermanfaat, dan anaknya yg berdoa untuknya, maka orang orang lain yg mengirim amal, dzikir dll untuknya ini jelas jelas bukanlah amal perbuatan si mayyit, karena Rasulullah SAW menjelaskan terputusnya amal si mayyit, bukan amal orang lain yg dihadiahkan untuk si mayyit, dan juga sebagai hujjah bahwa Allah memerintahkan di dalam Al Qur’an untuk mendoakan orang yg telah wafat : “WAHAI TUHAN KAMI AMPUNILAH DOSA-DOSA KAMI DAN BAGI SAUDARA-SAUDARA KAMI YG MENDAHULUI KAMI DALAM KEIMANAN”, (QS Al Hasyr-10).

Mengenai rangkuman tahlilan itu, tak satupun Ulama dan Imam Imam yg memungkirinya, siapa pula yg memungkiri muslimin berkumpul dan berdzikir?, hanya syaitan yg tak suka dengan dzikir.
Didalam acara Tahlil itu terdapat ucapan Laa ilaah illallah, tasbih, shalawat, ayat qur’an, dirangkai sedemikian rupa dalam satu paket dg tujuan agar semua orang awam bisa mengikutinya dengan mudah, ini sama saja dengan merangkum Al Qur’an dalam disket atau CD, lalu ditambah pula bila ingin ayat Fulani, silahkan Klik awal ayat, bila anda ingin ayat azab, klik a, ayat rahmat klik b, maka ini semua dibuat buat untuk mempermudah muslimin terutama yg awam.

Atau dikumpulkannya hadits Bukhari, Muslim, dan Kutubussittah, Alqur’an dengan Tafsir Baghawi, Jalalain dan Ilmu Musthalah, Nahwu dll, dalam sebuah CD atau disket, atau sekumpulan kitab,
bila mereka melarangnya maka mana dalilnya ?,

munculkan satu dalil yg mengharamkan acara Tahlil?, (acara berkumpulnya muslimin untuk mendoakan yg wafat) tidak di Al Qur’an, tidak pula di Hadits, tidak pula di Qaul Sahabat, tidak pula di kalam Imamulmadzahib, hanya mereka saja yg mengada ada dari kesempitan pemahamannya.

Mengenai 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari, atau bahkan tiap hari, tak ada dalil yg melarangnya, itu adalah Bid’ah hasanah yg sudah diperbolehkan oleh Rasulullah saw, justru kita perlu bertanya, ajaran muslimkah mereka yg melarang orang mengucapkan Laa ilaaha illallah?, siapa yg alergi dengan suara Laa ilaaha illallah kalau bukan syaitan dan pengikutnya ?, siapa yg membatasi orang mengucapkan Laa ilaaha illallah?, muslimkah?, semoga Allah memberi hidayah pada muslimin, tak ada larangan untuk menyebut Laa ilaaha illallah, tak pula ada larangan untuk melarang yg berdzikir pada hari ke 40, hari ke 100 atau kapanpun, pelarangan atas hal ini adalah kemungkaran yg nyata.

Bila hal ini dikatakan merupakan adat orang hindu, maka bagaimana dengan computer, handphone, mikrofon, dan lainnya yg merupakan adat orang kafir, bahkan mimbar yg ada di masjid masjid pun adalah adat istiadat gereja, namun selama hal itu bermanfaat dan tak melanggar syariah maka boleh boleh saja mengikutinya, sebagaimana Rasul saw meniru adat yahudi yg berpuasa pada hari 10 muharram, bahwa Rasul saw menemukan orang yahudi puasa dihari 10 muharram karena mereka tasyakkur atas selamatnya Musa as, dan Rasul saw bersabda : Kami lebih berhak dari kalian atas Musa as, lalu beliau saw memerintahkan muslimin agar berpuasa pula” (HR Shahih Bukhari hadits no.3726, 3727).

Sebagaimana pula diriwayatkan bahwa Imam Masjid Quba di zaman Nabi saw, selalu membaca surat Al Ikhlas pada setiap kali membaca fatihah, maka setelah fatihah maka ia membaca AL Ikhlas, lalu surat lainnya, dan ia tak mau meninggalkan surat al ikhlas setiap rakaatnya, ia jadikan Al Ikhlas sama dengan Fatihah hingga selalu berdampingan disetiap rakaat, maka orang mengadukannya pada Rasul saw, dan ia ditanya oleh Rasul saw : Mengapa kau melakukan hal itu?, maka ia menjawab : Aku mencintai surat Al Ikhlas. Maka Rasul saw bersabda : Cintamu pada surat Al ikhlas akan membuatmu masuk sorga” (Shahih Bukhari).

Maka tentunya orang itu tak melakukan hal tsb dari ajaran Rasul saw, ia membuat buatnya sendiri karena cintanya pada surat Al Ikhlas, maka Rasul saw tak melarangnya bahkan memujinya.

Kita bisa melihat bagaimana para Huffadh (Huffadh adalah Jamak dari Al hafidh, yaitu ahli hadits yg telah hafal 100.000 hadits (seratus ribu) hadits berikut sanad dan hukum matannya) dan para Imam imam mengirim hadiah pada Rasul SAW :
  • Berkata Imam Alhafidh Al Muhaddits Ali bin Almuwaffiq rahimahullah : “aku 60 kali melaksanakan haji dengan berjalan kaki, dan kuhadiahkan pahala dari itu 30 haji untuk Rasulullah saw”.
  • Berkata Al Imam Alhafidh Al Muhaddits Abul Abbas Muhammad bin Ishaq Atssaqafiy Assiraaj : “aku mengikuti Ali bin Almuwaffiq, aku lakukan 7X haji yg pahalanya untuk Rasulullah saw dan aku menyembelih Qurban 12.000 ekor untuk Rasulullah saw, dan aku khatamkan 12.000 kali khatam Alqur’an untuk Rasulullah saw, dan kujadikan seluruh amalku untuk Rasulullah saw” ia adalah murid dari Imam Bukhari rahimahullah, dan ia menyimpan 70 ribu masalah yg dijawab oleh Imam Malik, beliau lahir pada 218 H dan wafat pada 313H
  • Berkata Al Imam Al Hafidh Abu Ishaq Almuzakkiy, aku mengikuti Abul Abbas dan aku haji pula 7X untuk rasulullah saw, dan aku mengkhatamkan Alqur’an 700 kali khatam untuk Rasulullah saw. (Tarikh Baghdad Juz 12 hal 111).
Imam Ahmad bin Hanbal, seorang ahli hadits kenamaan mengatakan bahwa beliau mendapatkan riwayat dari Hasyim bin al-Qasim, yang mana beliau meriwayatkan dari Al-Asyja’i, yang beliau sendiri mendengar dari Sofyan, bahwa Imam Thawus bin Kaisan radliyallahu ‘anhu pernah berkata :

إن الموتى يفتنون في قبورهم سبعا، فكانوا يستحبون أن يطعم عنهم تلك الأيام

“Sesungguhnya orang mati difitnah (diuji dengan pertanyaan malaikat) didalam quburnya selama 7 hari, dan “mereka” menganjurkan (mensunnahkan) agar memberikan makan (pahalanya) untuk yang meninggal selama 7 hari tersebut”.

Riwayat ini sebutkan oleh Imam Ahmad Ahmad bin Hanbal didalam az-Zuhd [1]. Imam Abu Nu’aim al-Ashbahani (w. 430 H) juga menyebutkannya didalam Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiyah.[2] Sedangkan Thawus bin Kaisan al-Haulani al-Yamani adalah seorang tabi’in (w. 106 H) ahli zuhud, salah satu Imam yang paling luas keilmuannya. [3] Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974) dalam al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubraa dan Imam al-Hafidz as-Suyuthi (w. 911 H) 

Dalam al-Hawil lil-Fatawi mengatakan bahwa dalam riwayat diatas mengandung pengertian bahwa kaum Muslimin telah melakukannya pada masa Rasulullah, sedangkan Rasulullah mengetahui dan taqrir terhadap perkara tersebut. Dikatakan (qil) juga bahwa para sahabat melakukannya namun tidak sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam. Atas hal ini kemudian dikatakan bahwa khabar ini berasal dari seluruh sahabat maka jadilah itu sebagai Ijma’, dikatakan (qil) hanya sebagian shahabat saja, dan masyhur dimasa mereka tanpa ada yang mengingkarinya. sedangkan untuk ke 40,100,1000 hari itu kebiasaan untuk tetap mendo’akan mayyit dg tahlilan yg isinya baca surat Yasin sama-2, zikir,dg porsi tahlil yg lebih banyak, tujuannya mengrimkan pahala untuk si mayyit tersebut.





Do'a Jum'at

Written By Din Hikmah on Kamis, 26 April 2012 | 23:08




Petikan Doa Jum'at ini adalah doa Imam Ali Zainal Abidin (sa) salah seorang cucu Rasulullah SAW.
Diambil dari kitab Mafaatihul Jinaan, kunci-kunci surga bab 1 pasal 3.
Mari kita baca dan Amiin kan, semoga setiap hari Jum'at dan seterusnya menjadi keberkahan buat kita smua.

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

"Allaahumma tsabbitnii 'alaa diinika maa ahyaytanii, walaa tuzigh qalbii ba'da idz hadaytanii, wa bahlii milladunka rahmatan innaka Antal Wahhaab, shalli 'alaa Muhammadin wa 'alaa aali Muhammad, waj'alnii min atbaa'ihi wa syii'atihi, wahsyurnii fii zumratihi, wa waffiqnii liadiii fardhil jumu'aati wa maa awjabta 'alayya fiihaa minath tha'aati, wa qasamta liahlihaa minal 'athaai fii yawmil jazaa', innaka Antal 'Aziizul Hakiim."

Ya Allah, Teguhkan aku pada agamaMu selama Kau hidupkan aku Janganlah gelincirkan hatiku setelah Engkau tunjuki aku.
Karuniakan padaku rahmat dari sisi-Mu. Sungguh, Engkaulah Maha Pemberi.
Sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, Jadikanlah aku dari pengikut dan golongannya, Kumpulkan aku pada kelompoknya.
Bimbinglah aku untuk melaksanakan kewajiban Jum'at, yang Kau wajibkan atasku untuk aku taati dan Kau bagikan karunia pada hari pembalasan pada orang yang layak menerimanya.
Sungguh, Engkaulah Yang Maha Gagah dan Maha Bijaksana.

Walhamdulillahi Rabbil 'Allamiin




( Din Muhammad 'ilyas )





Bertawassul dan bertabarruk ketika berziarah kubur sebuah alternatif sampainya Doa

Written By Din Hikmah on Minggu, 15 April 2012 | 06:59


Dari Sulaiman bin Buraidah dari bapaknya ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada mereka apa yang mesti mereka kerjakan apabila mereka hendak keluar ziarah kubur. Maka salah seorang dari mereka membaca do'a sebagaimana yang tertera dalam riwayat Abu Bakar; "As Salaamu 'ala ahlid diyaar" -sementara dalam riwayat Zuhair- "Assalaamu 'alaikum ahlad diyaari minal mukminiin was muslimiin wa inna insyaa'Allahu bikum laahiquun asalullaha lanaa walakumul 'aafiyah" (Semoga keselamatan tercurah bagi penghuni (kubur) dari kalangan orang-orang mukmin dan muslim dan kami insya Allah akan menyusul kalian semua. Saya memohon kepada Allah bagi kami dan bagi kalian Al 'Afiyah (keselamatan)" (HR Muslim 1620)

Kita sudah paham bahwa berdoa di Raudhah, Multazam, Hijr Ismail, Maqom Ibrahim maupun Safa dan Marwa adalah alternatif agar doa mustajab atau agar doa sampai (wushul) kepada Allah. Disanalah para malaikat setia di atas jejak-jejak Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan jejak-jejak kaum muslim yang telah meraih maqom disisiNya.

Para malaikat berada di atas jejak-jejak kaum muslim yang telah meraih maqom disisiNya, seperti berada pada baju bekas, potongan rambut, air liur dan lain lain akan memberikan manfaat atau barokah (berkat) atas doa yang dipanjatkan kepada Allah Azza wa Jalla yang dinamakan bertabarruk.

Firman Allah ta’ala yang artinya,

“Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah dia kewajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku” 
(QS Yusuf [12]:93)

Setelah itu, ia meneruskan ucapannya; ‘Jubah ini dahulu ada pada Aisyah hingga ia meninggal dunia. Setelah ia meninggal dunia, maka aku pun mengambilnya. Dan dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sering mengenakannya. Lalu kami pun mencuci dan membersihkannya untuk orang sakit agar ia lekas sembuh dengan mengenakannya. 
(HR Muslim 3855)

“Dan Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Ibnu Numair dan Abu Kuraib mereka berkata, telah mengabarkan kepada kami Hafsh bin Ghiyats dari Hisyam dengan isnad ini. Adapun Abu Bakr, maka ia berkata dalam riwayatnya; (Beliau bersabda kepada tukang cukur): HAA (cukurlah rambutku). Beliau sambil memberi isyarat ke arah kepala bagian kanannya seperti ini. Lalu beliau membagi-bagikan rambutnya kepada mereka yang berada di dekat beliau”. 
(HR Muslim 2298)

“Lalu Rasulullah bertanya; Di mana Ali bin Abu Thalib? Para sahabat menjawab; Ia sedang menderita sakit mata ya Rasulullah. Rasulullah berkata, Bawalah ia kemari! Tak lama kemudian, Ali bin Abu Thalib datang menemui Rasulullah. Lalu Rasulullah meludahi kedua matanya dan berdoa untuk kesembuhannya. Tak lama kemudian kedua mata Ali sembuh tanpa ada rasa sakit lagi. 
(HR Muslim 4423)

Telah menceritakan kepadaku Shadaqah bin Al Fadl telah mengabarkan kepada kami Ibnu ‘Uyainah dari ‘Abdurrabbihi bin Sa’id dari ‘Amrah dari ‘Aisyah dia berkata; Biasanya dalam meruqyah, beliau membaca: BISMILLAHI TURBATU ARDLINA BI RIIQATI BA’DLINA YUSYFAA SAQIIMUNA BI IDZNI RABBINA (Dengan nama Allah, Debu tanah kami dengan ludah sebagian kami semoga sembuh orang yang sakit dari kami dengan izin Rabb kami )
(HR Bukhari 5304)

Yang dimakasud “ludah sebagian kami” adalah ludah hambaNya yang telah meraih maqom disisiNya.

Begitupula telah dicotohkan oleh para Sahabat bertawassul dan bertabarruk dengan surah Al Fatihah

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya At Tamimi; Telah mengabarkan kepada kami Husyaim dari Abu Bisyr dari Abu Al Mutawakkil dari Abu Sa’id Al Khudri bahwa beberapa orang sahabat melakukan perjalanan jauh dan berhenti untuk istirahat pada salah satu perkampungan ‘Arab, lalu mereka minta dijamu oleh penduduk kampung itu. Tetapi penduduk enggan menjamu mereka. Penduduk bertanya kepada para sahabat; ‘Adakah di antara tuan-tuan yang pandai mantera? Kepala kampung kami digigit serangga.’ Menjawab seorang sahabat; ‘Ya, ada! Kemudian dia mendatangi kepala kampung itu dan memanterainya dengan membaca surat Al Fatihah. Maka kepala kampung itu pun sembuh. Kemudian dia diberi upah kurang lebih tiga puluh ekor kambing. Tetapi dia enggan menerima seraya mengatakan; ‘Tunggu! Aku akan menanyakannya lebih dahulu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, apakah aku boleh menerimanya.’ Lalu dia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menanyakannya hal itu, katanya; ‘Ya, Rasulullah! Demi Allah, aku telah memanterai seseorang dengan membacakan surat Al Fatihah.’ Beliau tersenyum mendengar cerita sahabatnya dan bertanya: ‘Bagaimana engkau tahu Al Fatihah itu mantera? ‘ Kemudian sabda beliau pula: ‘Terimalah pemberian mereka itu, dan berilah aku bagian bersama-sama denganmu.’ Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar dan Abu Bakr bin Nafi’ keduanya dari Ghundar Muhammad bin Ja’far dari Syu’bah dari Abu Bisyr melalui jalur ini, dia menyebutkan di dalam Haditsnya; ‘Kemudian orang itu mulai membacakan Ummul Qur’an, dan mengumpulkan ludahnya lalu memuntahkannya, setelah itu orang itu sembuh. 
(HR Muslim 4080)

Bagi kaum muslim yang belum mampu menunaikan ibadah haji atau umrah maka sebagai alternatif doa agar sampai (wushul) kepada Allah adalah menziarahi kubur dan bertawassul dan bertabarruk dengan kaum muslim yang telah meraih maqom disisiNya

Kaum muslim yang melakukan ibadah ziarah kubur dengan bertawassul maksudnya mereka memohon kepada Allah Azza wa Jalla dengan perantaraan (washilah) maqom keutamaan ahli kubur disisi Allah ta’ala.

Kaum muslim yang bertawassul paham sekali bahwa hanya Allah Azza wa Jalla yang mengabulkan permohonan bukan ahli kubur yang ditawassulkan dan Allah Azza wa Jalla menyukai disebut nama-nama hambaNya yang telah meraih maqom disisiNya ketika hambaNya berdoa.

Muslim yang dekat dengan Allah atau muslim yang meraih maqom disisiNya yakni muslim yang berakhlakul karimah, muslim yang sholeh, muslim yang ihsan, muslim yang bermakrifat (muslim yang membenarkan dan menyaksikan Allah dengan hatinya / ain bashiroh)

Muslim yang dekat dengan Allah atau muslim yang meraih maqom disisiNya yakni muslim yang telah dikaruniakan ni’mat oleh Allah Azza wa Jalla sehingga selalu berada dalam kebenaran, selalu berada pada jalan yang lurus.

Firman Allah ta’ala yang artinya,
“Tunjukilah kami jalan yang lurus , (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka….” 
(QS Al Fatihah [1]:6-7)

“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang sholeh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” 
(QS An Nisaa [4]: 69)

Muslim yang terbaik untuk bukan Nabi dan meraih maqom disisiNya sehingga menjadi kekasih Allah (wali Allah) dengan mencapai shiddiqin, muslim yang membenarkan dan menyaksikan Allah dengan hatinya (ain bashiroh) atau muslim yang bermakrifat. Bermacam-macam tingkatan shiddiqin sebagaimana yang diuraikan dalam tulisan pada 

Rasa tenang dan khidmat dalam berdoa akan didapatkan ketika berada di makam kaum muslim yang telah meraih maqom disisiNya sebagai berkat atau barokah dari ahli kubur yang selalu berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla

Firman Allah ta’ala yang artinya, “Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah bersabda: “Maukah kalian saya beritahu orang yang terbaik di antara kalian?” mereka menjawab: “mau wahai Rasulullah” beliau bersabda: “yaitu orang-orang yang bila kalian melihatnya, mereka itu selalu berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”

Kaum muslim yang telah meraih maqom disisiNya, setelah wafat, mereka menjadi penduduk langit dan selalu berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku mendatangi -dan pada riwayat Haddab- Aku melewati Musa pada malam aku di isra’kan, yaitu di samping bukit merah sedang shalat di dalam kuburannya.” 
(HR Muslim 4379)

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdah bin Sulaiman dari Sufyan dari Sulaiman At Taimi Aku mendengar Anas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku melawati Musa yang sedang shalat di dalam kuburannya 
(HR Muslim 4380)

Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” 
(QS Al Hadid [57] : 1 )

Para Sahabat ketika duduk dalam shalat (tahiyyat), bertawasul dengan menyebut nama-nama orang-orang sholeh yang telah wafat maupun dengan para malaikat namun Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengajarkan untuk menyingkatnya menjadi “Assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin”, maka hal itu sudah mencakup seluruh hamba-hamba Allah yang sholeh baik di langit maupun di bumi“. Hamba Allah yang sholeh di langit maknanya penduduk langit, para malaikat dan kaum muslim yang telah meraih maqom disisiNya yang telah wafat , dan hamba sholeh di bumi adalah hamba Allah yang sholeh yang masih hidup.

Telah menceritakan kepada kami Umar bin Hafsh telah menceritakan kepada kami Ayahku telah menceritakan kepada kami Al A’masy dia berkata; telah menceritakan kepadaku Syaqiq dari Abdullah dia berkata; Ketika kami membaca shalawat di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka kami mengucapkan: 

ASSALAAMU ‘ALALLAHI QABLA ‘IBAADIHI, ASSALAAMU ‘ALAA JIBRIIL, ASSSALAAMU ‘ALAA MIKAA`IIL, ASSALAAMU ‘ALAA FULAAN WA FULAAN 
(Semoga keselamatan terlimpahkan kepada Allah, semoga keselamatan terlimpah kepada Jibril, Mika’il, kepada fulan dan fulan). Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selesai melaksanakan shalat, beliau menghadapkan wajahnya kepada kami dan bersabda: Sesungguhnya Allah adalah As salam, apabila salah seorang dari kalian duduk dalam shalat (tahiyyat), hendaknya mengucapkan; 

AT-TAHIYYATUT LILLAHI WASH-SHALAWAATU WATH-THAYYIBAATU, ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN-NABIYYU WA RAHMATULLAHI WA BARAKAATUH, ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALA ‘IBAADILLAAHISH SHAALIHIIN, 
(penghormatan, rahmat dan kebaikan hanya milik Allah. Semoga keselamatan, rahmat, dan keberkahan tetap ada pada engkau wahai Nabi. Keselamatan juga semoga ada pada hamba-hamba Allah yang shalih. Sesungguhnya jika ia mengucapkannya, maka hal itu sudah mencakup seluruh hamba-hamba yang shalih baik di langit maupun di bumi, lalu melanjutkan; 

ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA RASUULUH 
(Aku bersaksi bahwa tiada Dzat yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya). Setelah itu ia boleh memilih do’a yang ia kehendaki. 
(HR Bukhari 5762)

Kaum muslim yang telah meraih maqom disisiNya dan wafat, di alam kubur mereka ditemani oleh malaikat dan ruhnya atau amal sholehnya sehingga para peziarah akan mendapatkan barokah (berkat) atas doa yang dipanjatkan kepada Allah Azza wa Jalla

Imam Syafi’i ~ rahimahullah mengatakan “Sesungguhnya saya memperhatikan anak Adam, setiap mereka itu dicintai, mereka terikat oleh cinta orang yang mencintainya, dan sebagian orang yang dicintainya itu ditemani oleh kekasihnya sampai kepada masa sakit diambang kematiannya. Sebagian lagi ditemani oleh sang kekasih sampai ke pintu kubur, kemudian semuanya kembali dan meninggalkannya sendirian. Tidak seorang pun yang mendampinginya di alam kubur. Maka aku pun berfikir dan berkata “sebaik-baik orang yang dicintai seseorang adalah yang ikut menemaninya ke dalam kubur, mendampingi serta memberi manfaat kepadanya di alam kubur. Maka tidak satupun yang bisa melakukan itu selain amal sholeh, maka akhirnya aku menjadikan amal Sholeh sebagai kekasih sejatiku, supaya nanti dia menjadi penerang di kubur saya kelak, mendampingi serta tidak meninggalkan saya sendirian”

Imam Ahmad dalam kitabnya Al-Musnad menyebutkan bahwa Al-Bara’ ibn ‘Azib menyampaikan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang seorang hamba yang beriman telah meninggal dunia dan menghadap ke akhirat, Ruhnya kemudian dikembalikan ke bumi, lalu datanglah dua orang malaikat yang kemudian mendudukkannya, Mereka lantas bertanya kepadanya, “Siapakah Tuhan Anda ?” Ia menjawab, “Tuhanku adalah Allah “.

Kedua malaikat itu bertanya lagi, “Apakah agama Anda?” Ia menjawab, “Agamaku adalah Islam.”

Kedua malaikat itu bertanya lagi, “Siapakah laki-laki yang telah diutus kepada Anda?”

Jawabnya, “Beliau adalah (Muhammad) Rasulullah.” Malaikat itu bertanya, “Dari mana Anda tahu ?” Ia menjawab, “Aku telah membaca Kitab Allah. Aku mengimani dan membenarkannya.”

Lalu terdengarlah sebuah panggilan dari langit, “Jika memang hamba-Ku ini benar, maka hamparkanlah untuknya (permadani) dari surga, berilah ia pakaian dari surga, dan bukakanlah untuknya pintu yang menuju surga.” Kemudian ruh orang yang beriman dikembalikan ke jasadnya beserta bau wamgi-wangiannya, lalu diluaskan kuburannya sejauh mata memandang. Selanjutnya datanglah seorang laki-laki tampan yang berpakaian bagus dan berbau harum. Ia berkata, “Berbahagialah dengan segala yang membahagiakan Anda. Ini adalah hari kebahagiaan Anda yang telah Allah janjikan.” Orang beriman tersebut bertanya, “Siapakah engkau? Wajahmu tampan sekali.” Ia menjawab, “Aku adalah amal saleh Anda.”

Begitupula para Sahabat telah mencontohkan berdoa kepada Allah Azza wa Jalla memohon diturunkan hujan dengan berziarah dan bertawassul dengan Rasulullah dan paman Nabi.

Ibnu katsir dalam kitab tarikhnya 7/105:


: ” وقال الحافظ أبو بكر البيهقي: أخبرنا أبو نصر بن قتادة، وأبو بكر الفارسي قالا: حدثنا أبو عمر بن مطر، حدثنا إبراهيم بن علي الذهلي، حدثنا يحيى بن يحيى، حدثنا أبو معاوية، عن الأعمش، عن أبي صالح، عن مالك قال: أصاب الناس قحط في زمن عمر بن الخطاب، فجاء رجل إلى قبر النبي صلى الله عليه وسلم. فقال: يا رسول الله استسق الله لأمتك فإنهم قد هلكوا. فأتاه رسول الله صلى الله عليه وسلم في المنام فقال: إيت عمر، فأقرئه مني السلام، وأخبرهم أنه مسقون، وقل له عليك بالكيس الكيس. فأتى الرجل فأخبر عمر، فقال: يا رب ما ءالوا إلا ما عجزت عنه. وهذا إسناد صحيح” اهـ


Berkata al hafidz Abu Bakar al Baihaqi, telah menceritakan Abu Nashar bin Qutadah dan Abu bakar al Farisi, mereka berdua berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Umar bin Mathor, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Ali Addzahli, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari ‘Amasy dari Abi Shalih dari Malik Ad Daar Ia berkata, “

Orang-orang mengalami kemarau panjang saat pemerintahan Umar. Kemudian seorang laki-laki datang ke makam Nabi Shallallahu alaihi wasallam dan berkata “Ya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam mintakanlah hujan untuk umatmu karena mereka telah binasa”.

Kemudian orang tersebut mimpi bertemu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan dikatakan kepadanya “datanglah kepada Umar dan ucapkan salam untuknya beritahukan kepadanya mereka semua akan diturunkan hujan. Katakanlah kepadanya “bersikaplah bijaksana, bersikaplah bijaksana”. Maka laki-laki tersebut menemui Umar dan menceritakan kepadanya akan hal itu. Kemudian Umar berkata “Ya Tuhanku aku tidak melalaikan urusan umat ini kecuali apa yang aku tidak mampu melakukannya” (Sanadnya shahih adalah penetapan dari Ibnu katsir. Malik adalah Malik Ad Daar dan ia seorang bendahara gudang makanan pada pemerintahan Umar,ia adalah tsiqoh)

Al hafidz Ibnu Hajar al Asqolani dalam fathul bari juz 2 pada kitab aljumah bab sualun nas al imam idza qohathu”,


:” وروى ابن أبي شيبة بإسناد صحيح من رواية أبي صالح السمان عن مالك الدار وكان خازن عمر قال ” أصاب الناس قحط في زمن عمر فجاء رجل إلى قبر النبي صلى الله عليه وسلم صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله استسق لأمتك فإنهم قد هلكوا، فأتى الرجل في المنام فقيل له: ائت عمر ” الحديث.


Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shahih dari riwayat Abu Shalih As Saman dari Malik Ad Daar seorang bendahara Umar. Ia berkata “Orang-orang mengalami kemarau panjang saat pemerintahan Umar. Kemudian seorang laki-laki datang ke makam Nabi Shallallahu alaihi wasallam dan berkata “Ya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam mintakanlah hujan untuk umatmu karena mereka telah binasa datanglah kepada Umar dst..dan laki2 itu adalah bilal bin haris almuzani”.

Berikut hadits terkait dengan bertawassul


حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُثَنَّى عَنْ ثُمَامَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ إِذَا قَحَطُوا اسْتَسْقَى بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا قَالَ فَيُسْقَوْنَ


Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Muhammad berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah Al Anshari berkata, telah menceritakan kepadaku bapakku ‘Abdullah bin Al Mutsanna dari Tsumamah bin ‘Abdullah bin Anas dari Anas bin Malik bahwa ‘Umar bin Al Khaththab radliallahu ‘anhu ketika kaum muslimin tertimpa musibah, ia meminta hujan dengan berwasilah kepada ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib seraya berdo’a, Ya Allah, kami meminta hujan kepada-Mu dengan perantaraan Nabi kami, kemudian Engkau menurunkan hujan kepada kami. Maka sekarang kami memohon kepada-Mu dengan perantaraan paman Nabi kami,, maka turunkanlah hujan untuk kami. Anas berkata, Mereka pun kemudian mendapatkan hujan. 
(HR Bukhari 954)


حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيُّ حَدَّثَنِي أَبِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُثَنَّى عَنْ ثُمَامَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ كَانَ إِذَا قَحَطُوا اسْتَسْقَى بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَسْقِينَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا قَالَ فَيُسْقَوْنَ


Telah bercerita kepada kami Al Hasan bin Muhammad telah bercerita kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah Al Anshariy telah bercerita kepadaku bapakku, ‘Abdullah bin Al Mutsannaa dari Tsumamah bin ‘Abdullah bin Anas dari Anas radliallahu ‘anhu bahwa ‘Umar bin Al Khaththab ketika mereka ditimpa musibah kekeringan dia meminta hujan dengan berwasilah kepada ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib seraya berdo’a; ALLOOHUMMA INNAA KUNNA NATAWASSALU ILAIKA BIN ABIYYINAA MUHAMMAD SHALLALLAHU’ALAIHIWASALLAM FATASQIINAA WA-INNAA NATAWASSALU ILAIKA BI’AMMI NABIYYINAA FASQINAA Ya Allah, kami dahulu pernah meminta hujan kepada-Mu dengan perantaraan Nabi kami kemudian Engkau menurunkan hujan kepada kami. Maka sekarang kami memohon kepada-Mu dengan perantaraan paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan untuk kami. Anas berkata; Kemudian turunlah hujan. 
(HR Bukhari 3434)

Begitupula sebagaimana yang disampaikan Sahabat Nabi sebagaimana yang terlukis pada Tafsir Ibnu Katsir pada ( QS An Nisaa [4] : 64 ) Scan kitab tafsir dapat dibaca pada 

Berikut kutipannya

**** awal kutipan ****

Al-Atabi ra menceritakan bahwa ketika ia sedang duduk di dekat kubur Nabi Shallallahu alaihi wasallam, datanglah seorang Arab Badui, lalu ia mengucapkan, “Assalamu’alaika, ya Rasulullah (semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu, wahai Rasulullah). Aku telah mendengar Allah ta’ala berfirman yang artinya, ‘Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka menjumpai Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang‘ 
(QS An-Nisa: 64),

Sekarang aku datang kepadamu, memohon ampun bagi dosa-dosaku (kepada Allah) dan meminta syafaat kepadamu (agar engkau memohonkan ampunan bagiku) kepada Tuhanku.”

Kemudian lelaki Badui tersebut mengucapkan syair berikut , yaitu: “Hai sebaik-baik orang yang dikebumikan di lembah ini lagi paling agung, maka menjadi harumlah dari pancaran keharumannya semua lembah dan pegunungan ini. Diriku sebagai tebusan kubur yang engkau menjadi penghuninya; di dalamnya terdapat kehormatan, kedermawanan, dan kemuliaan.“

Kemudian lelaki Badui itu pergi, dan dengan serta-merta mataku terasa mengantuk sekali hingga tertidur.

Dalam tidurku itu aku bermimpi bersua dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam., lalu beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Hai Atabi, susullah orang Badui itu dan sampaikanlah berita gembira kepadanya bahwa Allah telah memberikan ampunan kepadanya!”

***** akhir kutipan *****

Tulisan kali ini kami akhiri dengan saling mengingatkan, berhati-hatilah menyebarluaskan atau menyampaikan sesuatu tidak diketahui atau tanpa ilmu, apalagi memperolok-olok, mencela amal kebaikan yang dilakukan oleh saudara muslimnya lainnya.

Rasulullah mengatakan, “Apa yang aku perintahkan maka kerjakanlah semampumu dan apa yang aku larang maka jauhilah“. 
(HR Bukhari).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “mencela seorang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekufuran”. 
(HR Muslim).

Firman Allah ta'ala yang artinya,
"Apakah kamu tidak melihat kepada orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah? Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan?" 
(QS Al Mu'min [40]:69)

"Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan." 
(QS Al Luqman [31]:6) 

Wassalam



Penulis:
Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830




Sudahkah Anda istighfar ??

Written By Din Hikmah on Senin, 19 Maret 2012 | 16:24



Bismillaahirrohmaanirrohiim

Assalaamu’alaikum warohmatullaahi wabarokaatuh

Terkadang, kita melakukan kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja, 
Allah Subhanahu Wa Ta'ala memerintahkan kita untuk Ber istighfar atau memohon ampun kepadanya seperti dalam Firman nya :
وَاسْتَغْفِرِ اللهَ إِنَّ اللهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا
“Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS.An-Nisa':106)

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لآإِلَهَ إِلاَّاللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ
"Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Ilah (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang Mu’min, laki-laki dan perempuan.Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu." 
(QS. Muhammad: 19).

Dalam Hadits Sahih juga dijelaskan :
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: 
"Demi Allah sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah dan mohon ampunan dari Allah setiap harinya lebih banyak dari 70 kali."
(HR. Bukhari). 
Dalam riwayat Muslim: "Sesungguhnya aku minta ampun kepada Allah dalam sehari 100 kali." 
(HR. Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah telah bersabda:
"Barangsiapa melazimkan istighfar, maka Allah akan jadikan jalan keluar dalam setiap kesulitan hidup, dan jadikan setiap kegundah-gulanaannya menjadi kebahagiaan dan Allah akan memberinya rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka."
(HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Kata istighfar dalam bahasa Arab berasal dari akar kata "ghafara". Paling tidak ada 2 arti dari kata ghafara itu. Pertama, bagi sesuatu yang kotor, ghafara berarti mencuci, membersihkan kotorannya. Kedua, bagi benda yang bersih ghafara berarti melindungi atau menutupi agar tidak terkena kotoran.

Demikian juga tentang perintah istighfar dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Untuk orang yang berdosa, istighfar yang dilakukannya dimaksudkan untuk memohon ampunan atas segala dosa-dosanya. Biasanya istighfar jenis ini adalah untuk orang-orang awam.

Sedangkan untuk orang-orang yang bersih dari dosa seumpama para Nabi, para Rasul, orang-orang Shiddiq, dan para Wali, istighfar yang dilakukan lebih dimaksudkan untuk memohon perlindungan agar terhindar dari dosa dan tetap berada dalam keadaan suci.

Seseorang beristighfar bukan hanya karena ia melakukan maksiat/dosa saja,namun bisa juga beristighfar untuk dirinya sendiri,kedua orangtuanya,anak-anaknya ataupun untuk kaum muslimin muslimat baik yang sudah meninggal maupun yang masih hidup.
Wajib Istighfar jika melakukan berbuat dosa,dan seorang hamba diwajibkan untuk segera beristighfar jika ia berbuat hal yang dilarang oleh Allah SWT.
Berikut Beberapa Macam istighfar, bisa untuk sendiri maupun orang lain, 

"Astaghfirullahal 'azhiim "
(Aku memohon ampunan kepada Allah yang Maha Agung)

"Astaghfirullahal 'azhiim alladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyum wa atuubu ilaih"
(Aku memohon ampunan kepada Allah yang Maha Agung, dzat yang tiada Ilah melainkan Dia, yang Maha hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya) serta aku bertaubat kepada-Nya )

Sayyidul Istighfar (penghulu istighfar)
"Allaahumma anta rabbii laa ilaha illaa anta khalaqtanii wa anaa ‘abduka wa anaa ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika mastatha’tu a-‘udzu bika min syarri maa shana’tu abu-u laka bini’matika ‘alayya wa abu-u laka bidzanbii faghfirlii fa innahu laa yaghfirudz dzunuuba illaa anta."
(Ya Allah Engkau adalah Tuhan-Ku, tidak ada Tuhan selain Engkau Yang telah Menciptakan aku. Aku adalah hamba-Mu dan aku berada dalam ikatan dan janji-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari hal-hal yang jelek yang telah aku lakukan. Aku mengakui kenikmatan-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan aku juga mengakui dosa yang telah aku lakukan. Maka ampunilah diriku, sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosaku kecuali Engkau.)


Do'a dan istighfar

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ- أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ- أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ -اَلَّذِيْ لاَاِلهَ اِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَاَتَوْبُ الَيْهِ - لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَه لَا شَرِيكَ لَهُ- لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ - اللّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ - اللّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ - اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ – سُبْحَانَ اللهِ 33× - اَلْحَمْدُ ِلله 33× - اللهُ اَكْبَرُ 33× - لاَ إِلَهَ إِلاَّ للهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
"Aku memohon ampunan kepada Allah yang Maha Agung 3x dzat yang tiada Ilah melainkan Dia, yang Maha hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya) serta aku bertaubat kepada-Nya -Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, yang Tunggal dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan, dan milik-Nya segala pujian, Dia Yang menghidupkan dan Dia pula yang mematikan. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, Engkau adalah Dzat yang memberi keselamatan, dan dari-Mulah segala keselamatan, Maha Besar Engkau wahai Dzat Pemilik kebesaran dan kemuliaan."Ya Allah, tidak ada yang dapat menahan dari apa yang Engkau berikan dan dan tidak ada yang dapat memberi dari apa yang Engkau tahan. Dan tidak bermanfaat kekayaan orang yang kaya di hadapan-Mu sedikitpun- Ya Allah, bantulah aku untuk berdzikir dan bersyukur kepadaMu serta beribadah kepadaMu dengan baik. Maha Suci Allah 33x – Segala puji bagi Allah 33x Allah Maha Besar 33x - Tidak ada tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya dan bagi-Nya pujian. Bagi-Nya kerajaan dan pujian. Maha menentukan atas segala sesuatu."


ALLAAHUMMA ANTAS SALAAM WAMINKAS SALAAM TABAARAKTA DZAL JALAALI WAL IKROOM 
"Ya Allah, Engkau adalah Dzat yang memberi keselamatan, dan dari-Mulah segala keselamatan, Maha Besar Engkau wahai Dzat Pemilik kebesaran dan kemuliaan."


Semoga bermanfaat.. JANGAN LUPA SEDEKAH

Wassalaamu’alaikum warohmatullaahi wabarokaatuh



( Din Muhammad 'ilyas )



Shadaqoh & Tahlil

Written By Din Hikmah on Rabu, 14 Maret 2012 | 14:44



Do’a, Bacaan Al-Qur’an, Shadaqoh & Tahlil untuk Orang Mati

 
Apakah do’a, bacaan Al-Qur’an, tahlil dan shadaqoh itu pahalanya akan sampai kepada orang mati? Dalam hal ini ada segolongan yang yang berkata bahwa do’a, bacaan Al-Qur’an, tahlil dan shadaqoh tidak sampai pahalanya kepada orang mati dengan alasan dalilnya, sebagai berikut:

وَاَنْ لَيْسَ لِلْلاِءنْسنِ اِلاَّ مَاسَعَى

“Dan tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dia kerjakan”. (QS An-Najm 53: 39)

Juga hadits Nabi MUhammad SAW:

اِذَامَاتَ ابْنُ ادَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ اَوْوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ

“Apabila anak Adam mati, putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga perkara; shadaqoh jariyah, ilmu yang dimanfa’atkan, dan anak yang sholeh yang mendo’akan dia.”

Mereka sepertinya, hanya secara letterlezk (harfiyah) memahami kedua dalil di atas, tanpa menghubungkan dengan dalil-dalil lain. Sehingga kesimpulan yang mereka ambil, do’a, bacaan Al-Qur’an, shadaqoh dan tahlil tidak berguna bagi orang mati. Pemahaman itu bertentangan dengan banyak ayat dan hadits Rasulullah SAW beberapa di antaranya :

وَالَّذِيْنَ جَاءُوْامِنْ بَعْدِ هِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَااغْفِرْلَنَا وَلاِءخْوَنِنَاالَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلاِءْيمن

“Dan orang-orang yang datang setelah mereka, berkata: Yaa Tuhan kami, ampunilah kami dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan beriman.” (QS Al-Hasyr 59: 10)

Dalam hal ini hubungan orang mu’min dengan orang mu’min tidak putus dari Dunia sampai Akherat.

وَاسْتَغْفِرْلِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنتِ

“Dan mintalah engkau ampun (Muhammad) untuk dosamu dan dosa-dosa mu’min laki dan perempuan.” (QS Muhammad 47: 19)

سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِىَّ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَارَسُوْلَ اللهِ اِنَّ اُمِى مَاتَتْ افَيَنْفَعُهَا اِنْ تَصَدَّقْتَ عَنْهَا ؟ قَالَ نَعَمْ

“Bertanya seorang laki-laki kepada Nabi SAW; Ya Rasulullah sesungguhnya ibu saya telah mati, apakah berguna bagi saya, seandainya saua bersedekah untuknya? Rasulullah menjawab; yaa berguna untuk ibumu.” (HR Abu Dawud).

Dan masih banyak pula dalil-dalil yang memperkuat bahwa orang mati masih mendapat manfa’at do’a perbuatan orang lain. Ayat ke 39 Surat An-Najm di atas juga dapat diambil maksud, bahwa secara umum yang menjadi hak seseorang adalah apa yang ia kerjakan, sehingga seseorang tidak menyandarkan kepada perbuatan orang, tetapi tidak berarti menghilangkan perbuatan seseorang untuk orang lain.

Di dalam Tafsir ath-Thobari jilid 9 juz 27 dijelaskan bahwa ayat tersebut diturunkan tatkala Walid ibnu Mughirah masuk Islam diejek oleh orang musyrik, dan orang musyrik tadi berkata; “Kalau engkau kembali kepada agama kami dan memberi uang kepada kami, kami yang menanggung siksaanmu di akherat”.

Maka Allah SWT menurunkan ayat di atas yang menunjukan bahwa seseorang tidak bisa menanggung dosa orang lain, bagi seseorang apa yang telah dikerjakan, bukan berarti menghilangkan pekerjaan seseorang untuk orang lain, seperti do’a kepada orang mati dan lain-lainnya.

Dalam Tafsir ath-Thobari juga dijelaskan, dari sahabat ibnu Abbas; bahwa ayat tersebut telah di-mansukh atau digantikan hukumnya:

عَنِ ابْنِى عَبَّاسٍ: قَوْلُهُ تَعَالى وَأَنْ لَيْسَ لِلاِءنْسنِ اِلاَّ مَا سَعَى فَأَنْزَلَ اللهُ بَعْدَ هذَا: وَالَّذِيْنَ أَمَنُوْاوَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِيَتُهُمْ بِاِءْيمنٍ أَلْحَقْنَابِهِمْ ذُرِيَتَهُمْ فَأَدْخَلَ اللهُ الأَبْنَاءَ بِصَلاَحِ اْلابَاءِاْلجَنَّةَ

“Dari sahabat Ibnu Abbas dalam firman Allah SWT Tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dikerjakan, kemudian Allah menurunkan ayat surat At-Thuur; 21. “dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami pertemukan anak cucu mereka dengan mereka, maka Allah memasukkan anak kecil ke surga karena kebaikan orang tua.”

Syaekhul Islam Al-Imam Ibnu Taimiyah dalam Kitab Majmu’ Fatawa jilid 24, berkata: “Orang yang berkata bahwa do’a tidak sampai kepada orang mati dan perbuatan baik, pahalanya tidak sampai kepada orang mati,” mereka itu ahli bid’ah, sebab para ulama’ telah sepakat bahwa mayyit mendapat manfa’at dari do’a dan amal shaleh orang yang hidup.

 
KH Nuril Huda
Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU)

Referensi : http://nu.or.id/

17 DO'A YANG MUSTAJAB

Written By Din Hikmah on Minggu, 19 Februari 2012 | 16:49

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Berikut ada 17 Do'a yang mustajab dan semoga bermanfaat bagi rekan-rekan semua sesama muslim..

Allah akan mengabulkan doa hambaNya yang ketika memintanya tidak terburu-buru ingin segera dikabulkan(HR.Bukhari-Muslim)

…..Apabila kamu ingin minta sesuatu, maka mintalah kepada Allah…..(HR. At-Turmudzy)

Doa itu adalah ibadah (HR. Abu Dawud dan At-Turmudzy)

1. PADA WAKTU TENGAH MALAM ATAU AKHIR MALAM

Rasulullah SAW bersabda: pada tiap malam, tuhan kita turun ke langit dunia ketika bersisa sepertiga malam yang akhir. Maka Allah berfirman: “barangsiapa yang berdo’a kepada-ku, pasti akan ku-kabulkan, dan siapa yang memohon kepada-ku, pasti akan ku-beri,dan siapa yang mohon ampun kepada-ku pasti akan ku ampuni”. (Hr.malik, bukhari, muslim, tirmidzi dan selainnya)

Bila telah lewat sebagian malam atau dua pertiganya, akan turun ke langit dunia Allah Yang Maha Memberkati dan Maha Tinggi, lalu berfirman: “tak seorang pun yang meminta pasti ia akan ku-beri, tak ada seorang pun yang berdoa pasti ia akan dikabulkan, tak ada seorang pun yang mohon ampun pasti ia akan Ku-ampuni”. Sehingga tiba waktu shubuh. (Hr. Bukhari dan Muslim)

Sedekat-dekat Allah (tuhan) dari hamba-nya ialah di tengah malam. maka dari itu, jika engkau mampu menjadi orang yang berdzikir kepada Allah pada saat itu maka kerjakanlah, (Hr. Abu Dawud dan Tirmidzi)

2. SESUDAH SHALAT FARDHU

ditanyakan orang kepada Rasulullah: wahai Rasulullah, manakah doa yang paling didengar Allah? rasulullah menjawab: doa di tengah malam dan doa setelah shalat wajib (Hr. Tirmidzi)

3. DI WAKTU LAPANG

Barangsiapa yang menginginkan doanya dikabul Allah ketika ia dalam kesulitan, maka hendaklah ia memperbanyak doa di waktu lapangnya (Hr. Thirmidzi dan Hakim)

Tidak ada sesuatu yang paling mulia di sisi Allah Azza wa Jalla daripada doa ketika dalam keadaan lapang. (Hr. Hakim)

4. DI WAKTU SUJUD

Jarak yang paling dekat antara seorang hamba dengan Tuhannya ialah ketika sujud. Maka perbanyaklah do’a (di waktu itu). (Hr. Muslim)

5. DIAWALI DENGAN ASMAUL HUSNA

serulah Allah atau serulah Arrahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru (adalah boleh) karena Dia mempunyai nama-nama yang terbaik dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah merendahkannya, dan carilah jalan tengah diantara keduanya itu. (al isra,17 :110)

6. DIAWALI DENGAN ISMUL A’ZHAM

Nabi Saw lewat di depan seorang yang bernama Abu ‘Iyasy Zaid bin Shamit az Zuraqiy yang sedang shalat. Ia berdo’a: Ya Allah, aku memohon kepadaMu, karena sesungguhnya bagiMu puja dan puji, tiada Tuhan selainMu, wahai yang Maha Pemberi, yang menjadi harapan, Yang Mencipta langit dan bumi, yang Maha Luhur dan Maha Mulia. Kemudian rasulullah bersabda engkau telah memohon kepada Allah dengan menggunakan nama-namaNya yang Maha Agung yang bilamana dimohonkan dengan nama-namaNya itu akan dikabulkan dan jika dimintai dengannya juga akan diberi (Hr. Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, Nasai dan lain-lain)

7. DIAWALI DENGAN KALIMAT TAUHID

Barangsiapa berdo’a dengan kalimat-kalimat yang lima, apa pun permintaannya akan diberi. Kalimat itu ialah:

laa ilaaha illallahu wallaahu akbaru, laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qadiirun, laa ilaaha illallaahu wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah. (Hr. Tirmidzi)

8. DIAWALI DENGAN ARHAMARR RAAHIMIIN

Sesungguhnya Allah mempunyai malaikat yang mewakili-Nya bagi barangsiapa yang berdo’a dengan berkata: Yaa arhamarraahimiin. Maka siapa saja yang menyebutnya 3 kali, maka menjawablah malaikat itu: Sesungguhnya Allah arhamarraahimiin telah (berkenan) mengabulkan permohonanmu. Maka mintalah kepadaNya. (Hr. Hakim)

9. YAKIN AKAN DIPENUHI

Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Aku akan mengikuti persangkaan hambaKu kepadaKu. dan Aku selalu menyertainya apabila ia berdo’a kepadaKu.” (Hr. Bukhari dan Muslim)

10. RENDAH HATI DENGAN SUARA LEMBUT

Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan berendah hati dan suara lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampau batas. (Q.S, al A’raf, 7:55)

11. DENGAN RASA TAKUT DAN PENUH HARAP

dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo’alah kepadaNya dengan rasa takut (tidak akan dikabulkan) dan berharap (akan diterima). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. al A’raf, 7:56)

12. MENDOAKAN ORANG LAIN TANPA DIKETAHUINYA

Doa seorang muslim untuk saudaranya (sesama muslim) dari tempat yang jauh (tanpa diketahuinya) akan dikabulkan. (Hr. Muslim)

13. DOA ORANG YANG DIZHALIMI

Takutlah akan do’a orang yang dizhalimi, karena do’a itu akan diangkat ke atas dan Allah berfirman: Demi kemuliaan dan keagunganKu, Aku pasti menolongmu, walau sesudah beberapa saat. (Hr. Thabrani)

14. DOA PEMIMPIN YANG ADIL DAN ORANG YANG BERPUASA

Tiga golongan tidak akan ditolak do’a mereka: orang yang berpuasa, pemimpin yang adil, dan orang yang teraaniaya. (Hr. Tirmidzi)

15. DIULANG 3 KALI

Adalah Nabi as apabila ia mendo’a, ia mendo’a tiga kali, dan apabila ia meminta, juga memintanya 3 kali. (Hr. Muslim)

16. DOA BUKAN UNTUK KECELAKAAN

Janganlah kau berdo’a untuk kerusakan dirimu, anakmu, pembantumu, jangan minta kepada Allah kerusakan, karena mana tahu sewaktu kamu minta maka Allah mengabulkannya bagimu. (Hr.uslim, Abu Daud dan Ibnu Khuzaimah)

17. BUKAN UNTUK DOSA, MEMUTUSKAN SILATURAHMI DAN JANGAN TERGESA-GESA

Senantiasa diterima do’a seorang hamba Allah apabila ia tidak berdo’a untuk berbuat dosa atau memutuskan silaturahmi, asal saja tidak dilakukan dengan tergesa-gesa: ‘Apakah yang dimaksud dengan tergesa-gesa?’ Rasul menjawab: “Seseorang berkata:”Aku telah berulangkali berdo’a tetapi tidak juga kulihat dikabulkan’. Ia merasa rugi dan lesu sampai ia meninggalkan do’anya.” (Hr. Muslim dan Tirmizi)

SEMOGA BERMANFAAT DAN dapat segera diamalkan dan dibagi ke rekan2 yang lain

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

FADHILAH SEBUAH DO'A


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Berikut ini saya akan menjelaskan sedikit beberapa Fadhilah Do'a,Semoga Bermanfaat buat kita semua sebagai umat muslim..

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Tuhanmu berfirman: Berdoalah engkau semua padaKu, pasti Aku mengabulkan doamu semua itu.” (QS.Ghafir: 60)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Berdoalah engkau semua kepada Tuhanmu dengan had dan rahasia , yakni dengan permohonan yang timbul dari jiwa, se-sungguh Allah itu tidak menyukai orang yang melanggar batas.” (al-A’raf: 55)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu – hai Muhammad – tentang Aku, maka katakanlah bahwa sesungguhnya Aku ini dekat. Aku dapat mengabulkan permohonan orang yang berdoa padaKu jikalau ia telah memohonkan itu padaKu,” sampai habisnya ayat. (al-Baqarah: 186)

Dan Tuhanmu berfirman,Berdo'alah kamu kepada-Ku, Pasti akan kuperkenankan permintaanmu.
Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku
akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina-dina (Q.S.Al Mu'min : 60)


Pengertian berdoa adalah memohon atau meminta pertolongan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala,
tetapi bukan berarti hanya orang yang terkena musibah saja yang layak memanjatkan doa.
Sebagai seorang Muslim kita layak berdoa walaupun kita dalam keadaan sehat.
Doa merupakan unsur yang paling esensial dalam ibadah.
Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW 'Doa itu ibadah' (H.R. Abu Daud,Tirmizi, Nasai dan Ibnu Majah).

Tiada sesuatu yang paling mulia dalam pandangan Allah, selain dari berdoa kepada-Nya,
sedang kita dalam keadaan lapang(H.R. Al Hakim).

Didalam berdo'a ada tata cara. waktu dan tempat berdoa.
1. Tata cara berdoa
a. Menghadap Kiblat
Hal ini berdasarkan sebuah hadist Rasulullah datang ketempat wuquf diArafah dan ia menghadap kiblat lalu terus menerus berdo'a sehingga tenggelam matahari.

b. Membaca Hamdalah atau pujian,tasbih,tahmid,takbir,tahlil,Istighfar dan membaca Shalawat
Salah seorang Sahabat Nabi berkata : Ketika Nabi Muhammad SAW duduk
dimasjid, tiba-tiba datang seorang laki-laki masuk, lalu ia shalat.
Setelah selesai ia membaca doa,'Allahummaghfirlii warhamnii'. Maka waktu itu
Rasulullah pun berkata, wahai kawan, engkau terburu-buru ??
Jika kau shalat,duduklah dahulu kemudian bacalah puji-pujian kepada Allah.
Karena dia yang memiliki pujian itu, lalu kau baca shalawat kepadaku kemudian
baru berdo'a.
Kemudian datang seorang yang lain setelah shalat ia memuji Allah
dan membaca shalawat untuk Nabi Muhammad SAW. dan setelah itu
Rasulullah SAW bersabda; "Berdo'alah akan dipenuhi".

c. Dengan suara lembut dan rasa takut
Sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang berbunyi, "Berserulah (Berdoa) kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah engkau berbuat kerusakan dibumi sesudah (Allah SWT ) memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak diterima) dan harap (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik".
(Q.S. Al A'raf : 55-56)

d. Yakin akan dipenuhi
Di dalam berdoa kita harus yakin dan berprasangka baik kepada Allah,
seperti hadist berikut ini : Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman :
"Aku akan mengikuti prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Dan Aku selalu menyertainya apa bila ia berdoa kepada-Ku" 'Berdoalah kepadaKu, niscaya Aku kabulkan.'
(QS. Ghafir : 60)

2. Waktu yang paling baik
a. Antara azan dan Iqamat.
b. Menjelang waktu shalat dan sesudahnya.
c. Waktu sepertiga malam yang terakhir.
d. Sepanjang hari jum'at
e. Antara Dzuhur dan Ashar, serta Ashar dan Maghrib
f. Ketika Khatam membaca Al-Qur'an
g. Ketika Turun hujan.
h. Ketika melakukan Tawaf.
i. Ketika menghadapi musuh dimedan perang.

3. Tempat-tempat yang baik untuk berdoa
a. Di depan dan di dalam Kabah.
b. Di masjid Rasulullah saw.
c. Di belakang makam Nabi Ibrahim as.
d. Di atas bukit Safa dan Marwah.
e. Di Arafah, di Muzalifah, di Mina dan disisi jamarat yang tiga.
f. Di tempat-tempat yang mulia lainnya seperti Masjid atau Mushalla

hal-hal yang harus diperhatikan jika kita Berdo'a
1. Kualitas keimanan yang berdoa. Doa setiap hamba kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan dikabulkan sangat tergantung pada kualitas keimanan atau keyakinan hambanya yang berdoa.
Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. mengucapkan dalam doanya yang artinya:
“Ya Allah, perbaguskanlah untukku akan agamaku yang itu adalah pegangan perkaraku,
perbaguskanlah untukku duniaku yang di dalamnya adalah kehidupanku,
juga perbaguskanlah akhiratku yang di dalamnya itulah tempat kembaliku.
Jadikanlah hidup ini sebagai tambahan bagiku dalam segala kebaikan dan jadikanlah kematian itu sebagai istirahat untukku dari segala keburukan.” (Riwayat Muslim)

2. Kualitas ketaqwaan yang berdoa. Setiap orang yang akan berdoa hendaknya meningkatkan keimanan dan ketaqwaanNya sehingga jika doa kita memang karena patut untuk dikabulkan.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman:
"Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang berserah diri kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendakiNya.Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu".
(QS. At-Thalaaq : 3)

3. Amal Kebaikan. Amal kebaikan yang telah kita lakukan salah satu faktor penyebab dikabulkan sebuah doa. Lakukanlah amal kebaikan seperti menolong orang yang sedang dalam kesusahan maka Allah akan membantu kita ketika kita dalam kesulitan.
"Barang siapa membantu orang yang sedang dalam kesulitan maka Allah akan membantunya di dunia dan di akhirat"
(H.R. Muslim)

YAKIN bahwa hanya Allah yang Maha Kuasa terhadap apa yang terjadi di dunia ini.
YAKIN bahwa apapun yang terjadi pada diri kita, itu semua dikehendaki oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
YAKIN bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala menghendaki kebaikan dan keburukan yang menimpa diri kita dengan suatu tujuan.
YAKIN bahwa dalam setiap kejadian yang menimpa kita, itulah keputusan terbaik dari-NYA setelah ikhtiar terbaik yang kita lakukan.
YAKIN bahwa doa maupun jeritan hati kita didengar oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala karena beliau begitu dekat.
YAKIN bahwa do’a adalah senjata ampuh kaum mukmin.
jangan pernah takut menjalani hidup,ada Allah Yang Maha Besar dan Maha Kuasa.
Mintalah padaNYA niscaya Allah akan mendengarkan segala pinta.
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta" (Al-Ankabut:2-3)
Sejatinya, hidup ini adalah sebuah perjalanan dari satu ujian menuju ujian berikutnya
Entah itu berupa ujian kesulitan maupun ujian kenikmatan.
Setiap kita yang mengaku beriman tidak akan dibiarkan begitu saja,
masing-masing diri kita akan diuji sesuai kadarnya masing-masing,
bahkan Allah akan menguji di titik terlemah kita. Ujian itulah yang akan membuktikan keimanan kita,
apakah kita benar-benar beriman atau hanya mengaku beriman padahal ternyata keimanan kita hanyalah dusta.

“Ya Allah, sesungguhnya kita mohon kepadaMu apa-apa yang menyebabkan datangnya kerahmatanMu dan apa-apa yang menyebabkan pengampunanmu, juga selamat dari dosa dan memperoleh dari semua kebaikan, demikian pula berbahagia dengan syurga dan selamat dari siksa api neraka.”
Allohumma sholi ‘ala sayyidina muhammadin adada anwairrizqi wal futuhat, yaa basitholladzi yabsutur rizqol limayyasa’u bighoiri hisab ubsut alayya rizqon kasiron min kulli jihatin min khoza ini rizqika bighoiri minnati makhluqin bifadlika wa karomika wa ‘ala alihi wa shohbihi wa salim
Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma
kama rabbayani shaghiran

SEMOGA BERMANFAAT BUAT SAHABAT-SAHABAT SEMUA..
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

DO'A HAMBA YANG DIBERI KENIKMATAN TIADA BATASNYA

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Alhamdulillaahirobbil ‘aalamiin 3x

Hamdan Yuuwaafii ni’amahu wayukaafii maziidah. Yaa robbana lakal hamdu kamaa yambaghii lijalaali wajhika wa’adhiimi sulthoonik. Wa shollal loohu ‘alaa sayyidina muhammaddin wa’alaa aalihii wa shohbihii ajma’iin.

(Segala puji bagi Allah yang menguasai sekalian alam. Pujian yang memadai nikmat-Nya yang selaras dengan kebaikan-Nya. Wahai Tuhan kami, bagi-Mu segala puji yang layak bagi keagungan dan kebesaran kekuasaan-Mu. Sholawat serta salam semoga tetap dilimpahkan kepada junjungan nabi besar Muhammad Saw, keluarga dan sahabat-sahabat semuanya.)

Ya Allah, Ya Bashir, Yang Maha Melihat, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui rahasia hamba yang tersembunyi dan amal perbuatan hamba yang nyata, maka terimalah ratapan hamba. Engkau Maha Mengetahui keperluan hamba, maka kabulkanlah permohonan hamba.

Ya Allah Ya Rohman Ya Rohiim, tolong mantapkanlah aqidah hamba, sempurnakanlah ibadah hamba, dan baguskanlah akhlak hamba. Jadikanlah hamba benci pada perbuatan kufur, fasiq, maksiat dan durhaka serta masukkan hamba pada golongan orang2 yang mendapat petunjuk. Sesungguhnya hamba bermohon kepada-Mu iman yang kekal, yang terus melekat dalam hati hamba. hamba bermohon agar Engkau berikan pada diri hamba keyakinan yang sungguh2 pada diri-Mu sehingga hamba mampu mengetahui bahwa tiada sesuatu yang menimpa hamba selain dari yang Engkau tetapkan bagi hamba. Maka tolong jadikan hamba rela terhadap apapun yang Engkau bagikan kepada hamba.

Ya Allah Yang Maha Pengasih lebih dari segala yang pengasih, sesungguhnya Engkau adalah pelindung bagi hamba di dunia ini dan di akhirat nanti. Sebagaimana Engkau telah menunjuki hamba untuk memilih Islam, maka tolong janganlah Engkau mencabutnya dari diri dan hati hamba.

Ya Allah Ya Waliyy, Yang Maha Melindungi, lindungilah hamba dari murka-Mu dan siksa neraka. Berilah kepada hamba khusnul khotimah, sudahilah amalan hamba dengan kebaikan.

Wafatkanlah diri hamba dalam keadaan muslim dan dalam keadaan khusnul khotimah. Tolong wafatkan hamba dalam iman dan Islam secara sempurna dalam keridhoan-Mu, dan gabungkanlah hamba ke dalam orang2 yang sholeh dengan tanpa nista dan cobaan.

Ya Allah Ya Ghoffar Ya ‘Afuuw, Yang Maha Mengampuni Yang Maha Pemaaf, ampunilah segala dosa2 hamba, dan condongkan diri hamba pada kebaikan. Tolong peliharalah daging dan kulit hamba dari siksa kubur dan neraka. Dan janganlah Engkau hinakan hamba di hari kiamat nanti. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji. Berilah kepada hamba taubat nasuha dan taubat sebelum mati, ketenangan ketika hendak mati, keampunan dan rahmat sesudah mati, keampunan ketika dihisab, serta berilah hamba cahaya dan perlindungan kelak dalam kubur hamba.

Ya Allah, Ya Wahhab, Yang Maha Penganugerah, cintakanlah hamba pada iman dan peliharalah ia di hati hamba. Bencikanlah hamba pada perbuatan kufur, fasiq, maksiat dan durhaka, serta masukkanlah hamba dalam golongan orang2 yang mendapat petunjuk.

Ya Allah Ya Fattaah Ya ‘Aliim, berilah hamba tambahan ilmu pengetahuan dan gabungkanlah hamba ke dalam kalangan orang-orang yang sholeh dan berilmu.

Ya Allah, Ya Haadii Ya ‘Aliim, Yang Maha Pemberi Petunjuk Yang Maha Mengetahui, berikanlah kepada hamba hidayah untuk berbuat baik dan menuntut ilmu, dan tetapkanlah hamba pada kebaikan setelah Engkau berikan petunjuk kepada hamba . Berilah hambai kemampuan untuk berada dalam kebaikan dan kebenaran serta menjauhi apa2 yang Engkau larang dan perbuatan sia-sia. Berilah hamba ilmu yang bermanfaat bagi urusan akhirat kami. Berilah hamba ilmu yang bisa melancarkan urusan dunia hamba.

Ya Allah, Ya ‘Aliyy Ya Hasiib, tolong terimalah amalan hamba. Berilah hamba petunjuk dan kekuatan untuk mampu selalu taat dan bersyukur kepada-Mu. Rahmatilah hamba sehingga mampu meninggalkan segala kejahatan selama hidup hamba, dan rahmatilah hamba sehingga mampu tinggalkan segala keburukan dan hal2 yang sia-sia. Karuniakanlah kepada hamba sikap pandang yang baik terhadap kebaikan dan segala yang membuat-Mu makin ridho terhadap diri hamba.

Ya Allah Ya Ghoffar, Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau. hamba bermohon agar Engkau hapuskan apa2 yang Engkau ketahui dari dosa hamba. Ampunilah kesalahan hamba terhadap-Mu, dan bebaskanlah hamba dari padanya. Hindarkanlah diri hamba dari dosa terhadap sesama manusia, dan bebaskanlah hamba dari padanya.

Ya Allah Ya Ghofuur, janganlah Engkau biarkan di diri hamba suatu dosa pun kecuali Engkau ampunkan, tiada kesusahan dalam diri hamba kecuali Engkau lapangkan, tiada suatu hajat keperluan kecuali Engkau penuhi dan mudahkan. Mudahkanlah segenap urusan hamba dan lapangkanlah dada hamba, terangilah hati hamba dan sudahilah seluruh amal perbuatan hamba dengan amal yang sholeh.

hamba berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang telah hamba perbuat, serta keburukan2 yang ditimbulkan darinya. hamba juga berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang bersembunyi di waktu malam dan siang hari.

Hamba bermohon kepada-Mu segala kebaikan baik yang cepat maupun lambat dan berikanlah kepada hamba rahmat-Mu wahai Tuhan Yang Maha Pengasih dari segenap yang pengasih.

Sesungguhnya hamba mengakui segala nikmat yang telah Engkau berikan kepada hamba. Tolong cukupkanlah diri hamba dan keluarga hamba dengan harta dan rizki-Mu yang halal, hindarkan dan jauhkan hamba dari segala yang haram. Puaskanlah hamba dengan nikmat dan anugerah yang telah Engkau berikan, dan gantilah apa-apa yang hilang dan lepas dari hamba dengan kemurahan dan kebajikan dari-Mu.

hamba bermohon pada-Mu kebaikan yang diminta oleh hamba2-Mu yang sholeh. Dan hamba berlindung pada-Mu dari kejahatan yang hamba2-Mu yang sholeh meminta perlindungan dari padanya. Berilah kepada hamba apa2 yang telah Engkau janjikan kepada hamba dengan perantara rasul-rasul-Mu. Ya Allah, hamba bermohon kepada-Mu kebaikan yang dimohonkan oleh Nabi-Mu, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dan hamba berlindung pada-Mu dari kejahatan sebagaimana yang diminta oleh Nabi-Mu Muhammad Saw. Buatlah diri hamba lebih mengenal Rasul-Mu, dan gerakkan serta mudahkan hamba dalam meneladani Rasul-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ya Allah, hamba bermohon kepada-Mu iman yang sempurna, keyakinan dan aqidah yang benar, ibadah yang baik, akhlak yang bagus, rizki yang halal, baik, luas dan berlimpah, hati yang khusyu’, lidah dan hati yang selalu berdzikir kepada-Mu.

Ya Allah Ya Jabbaar Ya Qowiyy, Yang Maha Perkasa Sang Maha Sumber Kekuatan, berilah hamba kesehatan dan vitalitas fisik sepanjang usia hamba, agar hamba bisa kuat dan giat beribadah kepada-Mu dan juga mampu memberikan kemanfaatan bagi seluruh makhluk-Mu. Berilah hamba kekuatan hingga mampu saling mengingatkan dalam taqwa dan kebaikan.

Tolong berikanlah kepada hamba surga-Mu, segala nikmat di dalamnya dan apapun yang bisa mendekatkan hamba kepadanya, baik dari ucapan maupun amal perbuatan. Lindungilah hamba dari neraka-Mu serta apapun yang bisa mendekatkan hamba kepadanya, baik dari ucapan maupun amal perbuatan.

Subhana robbika robbil ‘izzati ‘amma yashifuun wa salaamun ‘alal mursaliin. Wal hamdulillaahi robbil ‘aalamiin..

MERASA DO'A KITA TIDAK DIKABULKAN?? KENAPA??

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

saya akan menjelaskan sedikit beberapa sebab musabab "PENGHALANG TERKABULNYA SEBUAH DO'A".
SEMOGA BERGUNA UNTUK sahabat-sahabat sekalian dan semoga bermanfaat dan bisa diamalkan..

Doa dianalogikan sebagai anak panah yang sudah terentang di busurnya pada sepertiga penghujung malam.
Anak panah itu akan melesat ke arah sasaran yang telah ditentukan dan waktu yang telah ditetapkan.
Walau dalam gelap malam, anak panah itu tak akan pernah meleset sedikit pun dari sasarannya.
Dia datang pada saat yang telah ditetapkan tanpa bisa diundur atau dimajukan walaupun hanya sedetik.
Jadi ketika doa telah diapungkan, maka telah terentang pula anak panah pada busurnya.
Hanya saja untuk menentukan kapan dan sasaran mana yang hendak dituju, semua itu adalah kewenangan Allah Subhannallahu wa Ta’ala. Sebab, Beliau lah yang paling mengetahui segala kebutuhan yang baik bagi makhluk-Nya.

Sebagai hambaNya, manusia hanya perlu keyakinan kelak doa itu akan dikabulkan.
Dan, jangan pernah lelah untuk selalu memanjatkan doa. Kelak ketika semua doa itu dikabulkan,
maka semua permintaan kita akan mengalir deras bak air hujan. Bak anak panah yang lepas dari busurnya,
melesat cepat dan tepat sasaran.

Namun ketika seseorang merasa doanya tidak kunjung dikabulkan,
tidak jarang sejak saat itu ia pun tidak lagi berdoa dan tidak punya harapan bahwa doanya akan dikabulkan oleh Allah. Padahal sikap seperti ini dilarang oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Beliau bersabda;
“Doa salah seorang dari kalian akan dikabulkan selagi ia tidak buru-buru. (Yakni jika) ia berkata, ‘Aku telah berdoa kepada Tuhanku, tapi doaku tidak dikabulkan’.” (HR Al-Bukhari).
Dalam lafazh Muslim disebutkan: “Ditanyakan, ‘Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan minta agar doa segera dikabulkan?’ Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ’(Yakni) hamba itu berkata, ‘Aku berdoa dan berdoa, tapi doaku tidak dikabulkan’.” (HR Muslim)

Kita semestinya menyadari bahwa ada banyak sebab mengapa sebuah doa tidak segera dikabulkan oleh Allah.
Kita juga hendaknya paham bahwa hikmah besar pasti selalu ada di balik tidak dikabulkannya doa dalam waktu cepat.
Di antara sebab dan hikmah itu adalah sebagai berikut;

1. bisa jadi penyebab tertundanya pengabulan doa kita adalah karena kita belum memenuhi syarat-syarat diterimanya doa. Misalnya, kita tidak menghadirkan hati, tidak khusuk dan tidak merendahkan diri saat berdoa, kita berdoa bukan pada waktu dimana doa akan mudah dikabulkan, atau kita belum memenuhi syarat-syarat doa penting lainnya.

2. terkadang doa tidak terkabul dikarenakan sebab tertentu seperti karena dosa yang kita belum bertaubat darinya, karena dosa di mana kita tidak bertaubat dengan jujur darinya, karena makanan kita mengandung syubhat, atau karena ada hak milik orang lain pada diri kita dan kita belum mengembalikannya. Karena itu, kita hendaknya bertaubat dengan taubatan nashuhah, dengan melengkapi syarat-syaratnya dan mengembalikan hak orang lain kepada pemiliknya terlebih dahulu hak orang lain tersebut masih ada pada diri kita.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;
“Hai Sa’ad (bin Abu Waqqash), makanlah makanan yang baik-baik, niscaya engkau menjadi orang yang doanya dikabulkan.”

3. bisa jadi Allah tidak mengabulkan doa kita karena Ia sengaja hendak menyimpan pahala doa kita tersebut untuk Ia berikan kepada kita di akhirat kelak atau karena Ia hendak menghilangkan keburukan dari kita.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda;
“Jika di atas bumi ada seorang muslim berdoa kepada Allah dengan satu doa,
maka Ia akan mengabulkan doa itu atau menghilangkan keburukan darinya,
selagi ia tidak mengerjakan dosa atau memutus hubungan kekerabatan.” Seseorang berkata, “Bagaimana kalau kita memperbanyak doa?”
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Allah akan lebih banyak lagi mengabulkan doanya atau menghilangkan keburukan darinya.“Atau Allah akan menyimpan pahala seperti doanya itu untuknya.” (HR Al-Hakim)

4. penundaan terkabulnya doa merupakan salah satu bentuk ujian dari Allah kepada seseorang.
Allah ingin menguji iman orang itu. Ketika doa tidak segera dikabulkan, syetan membisikkan pikiran jahat kepada seseorang, dengan berkata kepadanya, “Apa yang kita minta itu ada pada Allah. Tetapi mengapa doa kita tidak segera dikabulkan?” Begitu pula, syetan akan menyusupkan bisikan-bisikan jahat lainnya. Setiap muslim harus melawan bisikan-bisikan jahat seperti itu dan mengusirnya dari dirinya, dengan segala sarana. Ia harus sadar bahwa bisa jadi Allah tidak segera mengabulkan doanya karena Allah hendak menguji imannya.
Ketika doa tidak segera dikabulkan, maka iman seseorang teruji dan terlihatlah perbedaan antara orang beriman sejati dengan orang beriman gadungan.

5. terkadang doa yang tidak segera dikabulkan justru akan membuat kita semakin dekat kepada Allah,
terus bersimpuh di hadapan-Nya, selalu merendahkan diri dan berlindung diri kepada-Nya.
Sebaliknya, tidak jarang jika permintaan kita dikabulkan, maka kita menjadi lebih sibuk,
lalu kita tidak lagi ingat kepada Allah, tidak meminta dan berdoa kepada-Nya, padahal keduanya adalah inti ibadah.
Inilah realitas sebagian besar kita. Buktinya, jika tidak ada cobaan maka kita tidak berlindung kepada Allah.

6. bisa jadi terkabulnya doa kita justru akan menjadikan kita berbuat dosa,
akan berdampak buruk pada agama kita, atau akan menjadi fitnah bagi kita.
Atau bisa juga apa yang kita minta itu sepintas lalu baik bagi kita padahal sebenarnya tidak baik bagi kita.
Yang demikian ini terutama bagi seseorang yang mengajukan permintaan tertentu yang sangat spesifik kepada Allah dan tidak berdoa dengan doa-doa yang telah dituntunkan dalam Al-Qur’an atau yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Karena itu hendaknya kita memperhatikan doa-doa yang ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah.

7. setiap doa punya ketentuan dan takaran. Adalah tidak masuk akal, hari ini seseorang yang amat miskin dan tidak melakukan usaha yang signifikan berdoa agar ia menjadi milyarder kaya raya pada esok paginya.
Doa memiliki takaran, syarat, sebab, prolog, kerja keras, dan bahkan pengorbanan yang besar.


PADA INTINYA SEPERTI INI SAHABAT-SAHABATKU SEKALIAN

ADA SEBUAH KISAH,
Seseorang berkata kepada Ibrahim bin Adham Rahimahullah:
“Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman dalam kitab-Nya :
“Berdoalah kalian kepada-KU, niscaya Aku kabulkan doa kalian.” (Surat Al Mu’min ayat ke 60).
Sedangkan kami telah berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sekian lama
namun tidak juga Allah Subhanahu wa Ta’ala kabulkan doa kami.”
Maka beliau pun menjawab: “Hati kalian telah mati karena 10 perkara:

1. “Kalian mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala namun tidak menunaikan hak-Nya.”
2. “Kalian membaca Kitabullah namun tidak mengamalkannya.”
3. “Kalian mengaku cinta kepada Rasulullah Shalllallahu ‘alaihi wa sallam namun meninggalkan Sunnahnya.”
4. “Kalian mengaku memusuhi syaitan namun sepakat dengannya.”
5. “Kalian katakan kami cinta Jannah (Syurga) namun tidak beramal untuk itu.”
6. “Kalian katakan kami takut An-Naar (Neraka) namun menggadaikan diri-diri kalian kepadanya (neraka).”
7. “Kalian katakan bahwa sesungguhnya kematian itu pasti (terjadi) namun kalian tidak bersiap-siap untuknya.”
8. “Kalian sibuk dengan aib saudara-saudara kalian dan mencampakkan aib-aib diri sendiri.”
9. “Kalian memakan nikmat Rabb kalian namun kalian tidak mensyukurinya.”
10. “Kalian mengubur jenazah-jenazah kalian dan tidak mengambil pelajaran darinya.”

Sahabat -sahabatku sekalian ada baiknya kita memperhatikan sebab musabab tidak terkabulnya sebuah Do'a.
dan pada intinya kita harus melakukan hal-hal dibawah ini;

- Tidak Bergampangan dalam hal yang haram, baik dalam hal makanan, minuman, pakaian, dan pemberian makan.
- Tidak Terburu-buru lalu menghentikan berdoa.
- Tidak Mengerjakan maksiat dan hal yang diharamkan.
- Tidak Meninggalkan kewajiban yang telah Allah Subhanahu Wa Ta'ala wajibkan.
- Tidak Berdoa untuk maksiat atau untuk memutuskan silaturahmi.
- Melakukan Wajib dan Sunnah nya.
- Mengamalkan ilmu apa yg kita dapat.
- Terhindar dari perbuatan maksiat,Syirik,takabur,suudzon,Murtad,kafir.
- Selalu Bersyukur apa yg diberikan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
- Meninggalkan apa yang dilarangnya.
- Tanamkan hati yang suka akan hal Sodaqoh/sedekah.
- Taqwa,Beriman,ikhtiyar,ikhlas.
- Berinfaq dari barang yang Halal.

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu dia berkata: Rasulullah SAW bersabda :
"Sesungguhnya Allah ta’ala itu baik, tidak menerima kecuali yang baik.
Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang beriman sebagaimana dia memerintahkan para rasul-Nya dengan firmannya : 'Wahai Para Rasul makanlah yang baik-baik dan beramal shalehlah'.
Dan Beliau berfirman : 'Wahai orang-orang yang beriman makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami rizkikan kepada kalian. Kemudian beliau menyebutkan ada seseorang melakukan perjalanan jauh dalam keadaan kumal dan berdebu. Dia memanjatkan kedua tangannya ke langit seraya berkata : Ya Robbku, Ya Robbku, padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan kebutuhannya dipenuhi dari sesuatu yang haram, maka (jika begitu keadaannya) bagaimana doanya akan dikabulkan. (Riwayat Muslim, Hadits 10, Hadits Arba’in An Nawawi).


Sahabat-sahabatku demikian sedikit Penjelasan saya tentang sebab musabab penghalang Terkabulnya sebuah Do'a.
Wallahu a"lam Bisshowab..
SEMOGA BERMANFAAT BUAT KITA SEMUA

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
 
Support : Ahlus Sunnah Wal Jamaah
Copyright © 2011. DinHikmah - Media Online Islam Pemersatu Ummat - All Rights Reserved
Template Modify by Din Hikmah